LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL (Indera Penglihatan 1)

 LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL

1.        Percobaan                         : Indera Penglihatan 1

Nama Percobaan              : Refleks (Reaksi Pupil)

Nama Subjek Percobaan : Trio Panji Yanuarsyah

Tempat Percobaan           : Rumah

a.      Tujuan Percobaan     : Untuk mengetahui serta memahami reaksi-reaksi

yang terjadi pada pupil mata.

b.      Dasar Teori                 : Menurut Andriyani (2015) Indera penglihatan

adalah alat yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga mampu mengenali benda-benda yang ada disekitarnya. Saraf optikus atau urat saraf kranial keduanya adalah saraf sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang bergabung untuk membentuk saraf oktikus. Saraf ini bergerak kebelakang secara medikal dan melintasi kanalis optikus memasuki rongga kratium lantas kemudian menuju khiasma optikum. Saraf penglihatan memiliki tiga pembungkus yang serupa dengan yang ada pada menigen otak. Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan sclera, lapisan tengah halus seperti arakhnoid, sementara lapisan dalam adalah valuker (mengandung banyak pembuluh darah). Pada saat serabut-serabut itu mancapai khiasma optikum, maka separuh dari serabut-serabut itu akan menuju ke traktus optikus sisi seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus optikus sisi yang sama. Dengan perantaraan serabut-serabut ini, maka setiap serabut nervus optikus dihubungkan dengan kedua sisi otak. Pusat visual terletak pada kortex lobus oksipitalis otak.

Menurut Abdullah (2007) Bola mata memiliki tiga lapisan dinding yang mengelilingi rongga bola mata. Ketiga lapis dinding tersebut, dari luar ke dalam berturut-turut adalah sklera (selaput keras), koroid (selaput pembuluh), dan retina (selaput jala). Di dalam bola mata terdapat lensa mata. Sklera (selaput keras) merupakan lapisan berwarna putih, tidak tembus cahaya, dan keras. Lapisan bagian depan sklera yang bening dapat tembus cahaya (transparan) disebut kornea. Kornea tidak mengandung pembuluh-pembuluh darah yang fungsi untuk membantu memfokuskan bayangan benda pada retina. Kornea  memiliki selaput pelindung transparan yang disebut konjungtiva. Agar tidak kekeringan, konjungtiva dibasahi oleh cairan yang keluar dari kelenjar air mata yang terdapat di bawah alis. Konjungtiva dapat mengalami radang yang disebut konjungtivitis.

Koroid (selaput pembuluh) merupakan lapisan tengah yang berwarna coklat kehitaman. Koroid berfungsi memberi zat makanan (nutrisi) dan oksigen, terutama untuk retina. Bagian depan koroid membentuk tirai berpigmen yang disebut iris (selaput pelangi). Pigmen inilah yang memberi warna pada mata seseorang. Itulah sebabnya ada orang yang matanya berwarna hitam, biru, atau coklat. Bagian tengah iris membentuk suatu celah yang disebut pupil. Melalui pupil inilah cahaya masuk dan mencapai retina. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu mengatur ukuran pupil agar cahaya yang masuk tepat mencapai retina. Bila cahaya sangat kuat (terang), maka pupil akan menyempit.  Sebaliknya bila cahaya lemah, maka pupil akan melebar. Jadi, pupil dapat mengalami perubahan ukuran tergantung dari kuat atau lemahnya cahaya yang masuk ke mata.

Retina (selaput jala) merupakan lapisan paling dalam yang lunak dan peka terhadap cahaya.  Pada retina terdapat suatu daerah yang banyak mengandung ujung-ujung saraf mata. Oleh karena itu, retina merupakan tempat paling peka untuk menerima rangsangan cahaya. Daerah itu dinamakan bintik kuning (fovea). Suatu benda dapat terlihat dengan jelas apabila bayangannya jatuh tepat pada bintik kuning. Pada retina ada dua macam sel reseptor (penerima rangsangan), yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel kerucut merupakan sel yang amat peka terhadap cahaya terang dan untuk pengamatan warna (membedakan warna). Pada manusia ada tiga macam sel kerucut, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel kerucut tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan atau kelainan pada salah satu sel kerucut akan menyebabkan seseorang menderita buta warna, sedangkan sel batang merupakan sel yang hanya mampu menerima rangsangan cahaya yang kurang terang dan tidak dapat membedakan warna. Pada daerah bintik kuning banyak terdapat sel-sel kerucut, sedangkan daerah di luarnya banyak memiliki sel-sel batang. Pada retina ada bagian yang tidak peka terhadap cahaya. Bagian itu disebut bintik buta. Bagian ini tidak memiliki sel batang maupun sel kerucut. Lensa mata di dalam bola mata terdapat lensa mata yang transparan bikonveks (cembung depan belakang). Lensa mata berfungsi sebagai penerima cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang kita lihat, sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina. Bentuk lensa mata dapat mengalami perubahan dari cembung ke pipi atau dari pipih kecembung. Tujuan perubahan bentuk lensa tersebut yaitu membuat bayangan benda jatuh tepat pada retina. Untuk dapat melihat benda yang jauh, lensa mata harus memipih (menipis). Sebaiknya, untuk melihat benda yang dekat, lensa mata harus mencembung (menebal). Kemampuan lensa yang demikian ini dinamakan daya akomodasi mata.

Menurut Wijaya (2008) Ada 6 otot mata yang berfungsi memegang sklera. Empat diantaranya disebut otot rektus (rektus inferior, rektus superior, rektus eksternal, dan faktor internal). Otot rektus berfungsi menggerakkan bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah otot oblik atas (superior) dan otot oblik bawah (inferior). Fungsi otot oblik adalah untuk menggerakan mata ke bawah-sisi luar dan ke atas-sisi luar.

Menurut Abdullah (2007) Mata yang normal (emetrop) adalah mata yang dapat memfokuskan berkas cahaya tepat pada bintik kuning. Mata normal dapat melihat benda yang letaknya jauh atau dekat dari mata. Jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat. Jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas disebut titik jauh. Umumnya pada usia anak-anak titik dekat mata sangat dekat dan semakin tua titik dekat semakin jauh.

c.       Alat yang Digunakan : Senter, sedotan, dan cermin.

d.      Jalannya Percobaan   : 1.1. Praktikan duduk dengan keadaan rileks,

pandangan lurus ke depan dan membuka mata. Kemudian rekan praktikan menyenterkan cahaya ke mata praktikan dari area samping mata hingga ke arah depan (tengah) pupil secara perlahan-lahan. Setelah itu, lihatlah reaksi yang terjadi pada pupil mata.

1.2. Praktikan duduk dengan keadaan rileks,

pandangan lurus ke depan lalu salah satu mata praktikan ditutup. Kemudian rekan praktikan menyenterkan cahaya melewati sedotan  dari area depan ke arah (tengah) pupil secara perlahan-lahan. Setelah itu, lihatlah reaksi yang terjadi pada pupil mata.

1.3. Praktikan duduk dengan keadaan rileks,

pandangan lurus ke depan dan membuka mata. Kemudian praktikan memegang cermin dan memegang senter, lalu senterlah cahaya ke area mata menggunakan cermin dengan cara memantulkan cahaya dari cermin ke  tersebut. Setelah itu, lihatlah reaksi yang terjadi pada pupil mata setelah terkena pantulan cahaya dari cermin tersebut.

e.       Hasil Percobaan          : 1.1. Saat menyenter cahaya ke arah mata secara

langsung, maka reaksi pupil mata akan mengecil dengan cepat.

1.2. Saat menyenterkan cahaya ke arah mata

melewati sedotan, maka reaksi pupil mata akan mengecil lebih cepat.

1.3. Saat menyenterkan cahaya ke arah mata

menggunakan pantulan cermin, maka reaksi pupil mata mengecil secara lambat.

f.       Kesimpulan                 : Koroid (selaput pembuluh) merupakan lapisan

tengah yang berwarna coklat kehitaman. Bagian depan koroid membentuk tirai berpigmen yang disebut iris (selaput pelangi). Bagian tengah iris membentuk suatu celah yang disebut pupil. Melalui pupil inilah cahaya masuk dan mencapai retina. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu mengatur ukuran pupil agar cahaya yang masuk tepat mencapai retina. Bila cahaya sangat kuat (terang), maka pupil akan menyempit. Sebaliknya bila cahaya lemah, maka pupil akan melebar. Jadi, pupil dapat mengalami perubahan ukuran tergantung dari kuat atau lemahnya cahaya yang masuk ke mata.

g.      Daftar Pustaka           : Andriyani, R., Triana, A., & Juliarti, W. (2015).

Buku Ajar Biologi Reproduksi dan Perkembangan. Yogyakarta: Deepublish.

Tersedia di Ebooks !




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama