CONDUCT DISORDER Definisi Conduct Disorder Tanda-tanda khas dari Conduct Disorder

 

CONDUCT DISORDER 

2 Definisi Conduct Disorder
Conduct disorder adalah suatu  gambaran perilaku berulang dan menetap dimana hak dasar orang lain atau norma sosial yang sesuai pada anak seusianya dilanggar, perilaku tersebut menyebabkan gangguan dalam fungsi sehari-hari baik di rumah atau di sekolah (perilaku antisosial).

3 DSM-IV-TR mendefinisikan Conduct Disorder sebagai perilaku dengan pola berulang dan terus-menerus yang melanggar hak-hak dasar orang lain atau norma-norma sosial atau aturan yang berlaku. 

4 Tingkat keparahan dari perilaku antisosial ini dibagi menjadi:
Ringan (beberapa masalah perilaku dan menimbulkan bahaya yang sedikit terhadap orang lain).Sedang (masalah perilaku meningkat ke tingkat yang lebih parah).Berat (banyaknya atau masalah perilaku mereka menyebabkan efek yang merugikan orang lain).

5 Tanda-tanda khas dari Conduct Disorder :
Gambaran perilaku anak remaja yang mengalami conduct disorder terdiri dari 4 kelompok antara lain :Agresi fisik / mengancam yang diarahkan keorang lain / binatangMerusak barang milik orang lainPerilaku tidak jujur, mencuriPelanggaran yang serius terhadap norma sosial yang sesuai dengan anak / remaja yang seusianya.

5 Tanda-tanda khas dari Conduct Disorder :
Gambaran perilaku anak remaja yang mengalami conduct disorder terdiri dari 4 kelompok antara lain :Agresi fisik / mengancam yang diarahkan keorang lain / binatangMerusak barang milik orang lainPerilaku tidak jujur, mencuriPelanggaran yang serius terhadap norma sosial yang sesuai dengan anak / remaja yang seusianya.

6 Definisi Conduct Disorder
Conduct disorder adalah suatu  gambaran perilaku berulang dan menetap dimana hak dasar orang lain atau norma sosial yang sesuai pada anak seusianya dilanggar, perilaku tersebut menyebabkan gangguan dalam fungsi sehari-hari baik di rumah atau di sekolah (perilaku antisosial).

7 Apa tanda-tanda anak yang mengalami conduct disorder ?
Sering berbohong,Sering mengancam,Sering mengintimidasi/menekan/bulli terhadap teman atau orang lain,Sering memulai perkelahian fisik,Menggunakan senjata/benda yang menyebabkan bahaya fisik yang serius bagi orang lain (misalnya, pemukul, batu, botol pecah dll),Menyakiti/kejam kepada orang lain atau teman,Menyakiti/kejam kepada binatang

8 Mencuri dengan terang-terangan (menjambret, merampas)
Mencuri secara sembunyi-sembunyi misalnya mengambil uang didompet orangtua, mengambil barang ditoko secara sembunyi-sembunyi, pemalsuan dllSecara sengaja menimbulkan kebakaranSecara sengaja merusak barang milik orang lain (mencoret-coret dinding, mengores kendaraan dengan benda tajam dll)Membongkar masuk kedalam rumah, bangunan, atau kendaraan orang lainSering memanfaatkan orang lain dengan tujuan mendapat keuntungan atau  menghindari kewajiban.Sering keluar pada malam hari tanpa tujuan yang jelas / nongkrong, walaupun dilarang orang tua.Sering kabur dari rumah.Sering membolos dari sekolah.

9 Masalah Perilaku & Perilaku Antisosial
kenakalan merupakan bagian dari perkembangan yang normal.DSM IV menetapkan bahwa kategori harus digunakan hanya dalam kasus-kasus dimana perilaku tersebut merupakan gejala dari disfungsi yang mendasari secara langsung daripada menjadi reaksi langsung terhadap lingkungan sosial. DSM IV menunjukkan bahwa untuk membuat penilaian perilaku harus dengan prosedur klinis dengan mempertimbangkan konteks sosial ekonomi dimana masalah perilaku itu terjadi.

10 Etnis dan Kelas SosialKonsistensi sosial menemukan bahwa gangguan perilaku lebih umum terjadi di kalangan remaja dari golongan ekonomi kurang mampu.Para peneliti banyak membicarakan tentang risiko yang terkait dengan tumbuh dalam keadaan ekonomi yang kurang mampu ketika ia menjelajahi konteks budaya. Begitu kelas sosial dikendalikan, tidak ada lagi perbedaan etnis atau ras dalam prevalensi gangguan perilaku.

 

11 Tipologi dari Perilaku Antisosial
Onset Anak vs Onset RemajaGangguan pada usia sebelum 10 tahun terkait dengan agresi terbuka dan kekerasan fisik, dan cenderung disertai dengan berbagai masalah, seperti defisit neuropsikologi, kurangnya perhatian, impulsif, dan kinerja sekolah yang buruk. Hal ini sering terjadi pada anak laki-laki dan diprediksikan perilaku antisosial ini terganggunya hubungan orangtua dan anak.

12 Onset RemajaGangguan pada usia remaja menggambarkan diri mereka yang mencari jati diri, terasing, tak berperasaan dan tidak terikat terhadap orang lain dan keluarga. Mereka juga lebih cenderung melakukan tindak kekerasan dan hukuman yang tidak proporsional karena kejahatan seperti : penyerangan, perkosaan dan penggunaan senjata mematikan.

13 Merusak / Tidak Merusak dan Terbuka / Rahasia
Frick dan koleganya (1993) mengidentifikasikan dua dimensi perilaku yang berbeda. Dimensi pertama pada perilaku merusak atau tidak merusak. Dimensi kedua pada perilaku terbuka atau rahasia. Mereka juga menemukan bahwa ada tipe yang berbeda dalam onset umur. Mereka yang terlibat dalam perusakan alat-alat properti menunjukkan onset usia rata-rata 7,5 sementara mereka yang menunjukkan perilaku pelanggaran status memiliki onset usia rata-rata 9.

14 Agresi Proaktif vs Agresi Reaktif
Reaktif atau pembalasan agresi, adalah reaksi defensif terhadap ancaman yang dirasakan dan disertai oleh kemarahan dan permusuhan.Proaktif atau instrumental agresi, tanpa alasan, berdarah dingin, dan umumnya digunakan untuk kepentingan pribadi atau untuk mempengaruhi dan memaksa orang lain.

15 Anak dengan agresi reaktif lebih mungkin berasal dari keluarga yang melecehkannya secara fisik, menjadi temperamental, kemampuan hubungan interpersonal yang rendah, keterampilan pemecahan masalah yang rendah, rasa bermusuhan dan menolak secara sosial rekan-rekan proaktif mereka. Anak dengan agresi proaktif menampilkan yang sebaliknya. 

16 PenggangguDiawali dengan tindak bullying yang didapat saat sekolah, anak menjadi korban dan menderita sakit hati, kecemasan yang signifikan, masalah somatik, rendah diri, kurangnya perhatian, dan bahkan dapat bunuh diri. Sedangkan dalam beberapa kasus ada yang menyebabkan kebodohan sosial seperti, ketidakmampuan sosialisasi, keterbatasan bicara dan terasing dari rekan-rekannya.

17 Sifat Berperasaan atau Tidak Emosional dan Psikopati Remaja
Hare (1996), menemukan bahwa diantara mereka dengan perilaku antisosial, ada bagian yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian psikopatik. Ciri-ciri ini mencakup perasaan (kurangnya penyesalan, empati, atau rasa bersalah), ego, pesona dangkal, impulsif, emosi dangkal, manipulativeness, dan tidak adanya hubungan yang bermakna.Psikopat adalah individu yang melakukan tindakan antisosial dan lainnya, tidak keluar dari kebutuhan , mereka tidak merampok karena mereka miskin atau menyerang keluar pada orang lain untuk membela diri, tetapi karena mereka mendapatkan kesenangan dari berburu atau memanipulasi orang lain.

18 Komorbiditas dan diagnosis diferensial.
Perilaku antisosial sering terjadi dengan gangguan lainnya. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ODD (Oppositional Defiant Disorder) adalah kategori diagnostik yang paling sering dikaitkan dengan CD.Komorbiditas remaja dengan ADHD dan CD juga kalangan yang paling terganggu. Mereka menampilkan tingkat yang lebih tinggi dari agresi fisik, masalah perilaku yang lebih gigih, prestasi sekolah yang rendah, dan penolakan lebih dari rekan-rekan dari tipe "murni" perilaku antisosial.ODD
à pola perilaku yang negatif, menantang, dan tidak taat

19 Gangguan belajar yang berhubungan dengan CD, terutama gangguan membaca
Gangguan belajar yang berhubungan dengan CD, terutama gangguan membaca. Dalam beberapa remaja, masalah pembelajaran dapat menyebabkan frustrasi, sikap oposisi, dan perilaku di sekolah dan dengan demikian diagnosis perilaku antisosial. Remaja dengan ADHD yang menduduki di antara mereka yang memiliki keduanya melakukan dan gangguan belajar, dan mungkin tumpang tindih gangguan ini dengan ADHD yang menyumbang terjadinya kejadian mereka. Sebuah variabel ketiga yang dapat menjelaskan hubungan ini merugikan sosial ekonomi. CD juga terjadi dengan penyalahgunaan zat dan dapat menjadi pelopor untuk itu,

20 Etiology The Biological Context
Moffit dan Lynam (1994): Temperamen mungkin memiliki pengaruh terhadap CD.tipikal difficult temperament, memberi kecenderungan pada anak untuk memiliki impulsifitas, kecenderungan cepat marah, dan juga menjadi overaktif.Genetis juga dipertimbangkan memiliki keterkaitan dengan CD, namun adanya peran lingkungan yang membentuk perilaku anak juga tidak dapat disingkirkan.

21 Konsumsi bahan-bahan berbahaya yang dapat membahayakan janin, meningkatkan risiko anak memiliki perilaku agresif 10 tahun kemudianBahan-bahan biokimia (yang terdapat pada tubuh) juga diperkirakan memiliki hubungan dengan CD:Testosterone (pada hewan) menyebabkan perilaku agresifSerotonin dan Cortisol (pada manusia)

22 The Individual Context
Self-Regulationpenting untuk dapat berperilaku sesuai dengan norma dan juga mengontrol perilaku impulsifnya sejalan dengan perkembangan usiabiasanya anak-anak usia pra-sekolah memiliki dorongan yang kuat untuk memuaskan perilaku mereka yang agresif dan cenderung untuk menjadi egosentris, maka diperlukan pengenalan pengendalian emosi diri.diperlukannya ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak agar dapat terjadinya internalisasi nilai-nilai orangtua pada anak

23 Emotion RegulationAnak-anak yang dalam keluarganya sering terjadi konflik, memiliki orangtua yang buruk dalam aspek penanganan perilaku anak-anakmereka sangat berisiko untuk gagal dalam mengembangkan strategi yang adekuat untuk dapat mengatasi emosi negatif dan mengatur ekspresi yang mereka tampilkan

24 Prosocial Development: Perspective-Taking, Moral Development, and Empathy
kemampuan untuk dapat melihat berbagai permasalahan dari sudut pandang yang lain, merupakan suatu dasar yang penting untuk mengembangkan moral reasoning dan empatianak-anak yang dikategorikan “nakal” lebih tidak matang secara kognitif dalam hal moral reasoning dan anak-anak dengan CD juga lebih tidak merasakan empati

25 hal yang mendasari perilaku agresi merupakan skema kognitif:
Social CognitionEron dan Huesmann (1990):hal yang mendasari perilaku agresi merupakan skema kognitif:sebuah panduan untuk menginterpretasikan dan melakukan respon terhadap kejadian-kejadian yang berasal dari masa lampau dan digunakan sebagai panduan bagi perilaku dimasa mendatang.

26 Substance AbuseNational Center on Addiction and Substance Abuse (2004):4 dari 5 anak yang terjerat kasus karena tindakan kriminal memiliki catatan sejarah pernah mengonsumsi bahan-bahan atau zat-zat terlarang, atau sedang berada dalam pengaruh alkohol saat mereka melakukan aksinya tersebut

27 The Family Context Attachment
Insecure attachment yang dimiliki anak dengan orangtuanya diyakini memiliki hubungan terhadap masalah perilaku yang dialami anak, seperti membantah dan melakukan kekerasanFamily DiscordPerselisihan dalam keluarga merupakan sumber yang sangat potensial untuk memicu perilaku antisosial pada anak, terutama pada anak laki-laki (Shaw et al., 1994).(Kruttschnitt & Dornfeld, 1993) menyatakan Anak-anak yang mengalami kekerasan dalam rumahnya juga memulai berperilaku “nakal” pada usia lebih awal dan melakukan perilaku melanggar yang lebih serius

28 Vaden-Kierman dkk (1995) menemukan fakta bahwa anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur seorang ayah dalam rumahnya lebih cenderung untuk memiliki perilaku agresif dibanding anak laki-laki yang tumbuh dengan kedua orangtua yang lengkap.Stres dalam keluarga juga meningkatkan kecenderungan anak mengalami CD

29 Parent Psychopatology
Konsumsi bahan-bahan/zat-zat terlarang oleh orang tua, terutama pada ayah, diprediksi memiliki pengaruh pada CD yang dialami anak.Depresi yang dialami ibu juga dihubungkan dengan masalah perilaku pada anak, sebagaimana juga yang terjadi pada penyimpangan-penyimpangan yang lain (Cummings & Davies, 1994a)

30 Harsh Parenting and the Intergenerational Transmission of Agression
Eron dan Huesmann (1990) melakukan penelitian selama 22 tahun, dengan mengumpulkan data dari 82 partisipan ketika mereka berumur 8 dan 30 tahun, sehingga dapat dikoleksi data dari orangtua mereka dan anak yang berumur 8 tahun tersebut.Keterkaitan terhadap perilaku agresif yang erat sangat jelas terlihat antara kakek/nenek, orangtua, dan anak-anak. Dipercaya karena adanya modeling.

31 Parenting Inconsitency and
Lack of Monitoringsebuah inkonsistensi campuran antara kekerasan dan juga kelalaianKelalaian dapat terlihat dalam beberapa kejadian yang melibatkan kurangnya pengawasan orangtua.kurangnya pengetahuan orangtua mengenai kegiatan anak dan memberi peringatan kepada anak tempat mana saja yang boleh dan tidak boleh dikunjungi juga beserta siapa anak boleh bepergian

32 Coercion TheoryPatterson melihatnya sebagai suatu perilaku negatif yang dilakukan seseorang dan didukung atau diperkuat oleh orang lainPatterson dkk (1982):anak-anak dengan perilaku antisosial lebih cenderung untuk diberi reinforcement positif oleh orangtua mereka, sementara orangtuanya secara tidak langsung mendapatkan reinforcement negatif.

33 Transactional Processes
Campbell (1997):ibu yang mengalami stres menjadi lebih sulit dan negatif ketika berusaha untuk melakukan coping pada perilaku anaknya yang impulsive dan tidak patuh.Dumas, La Freinere dan Serketich:anak-anak yang berperilaku agresif lebih cenderung untuk melakukan teknik aversif dalam berperilaku, dan ibu mereka cenderung untuk merespon secara tidak teratur/”sembarangan” dan gagal untuk membuat pembatasan terhadap perilaku coercion yang lebih buruk yang dapat dilakukan sang anak.

34 A Developmental Perspective on Parenting and Conduct Disorder
memfokuskan pada masalah attachment pada masa-masa awal perkembangan anak, mulai dari lahir hingga umur dua tahun (Shaw Bell (1993; et al., 2000)).perawatan yang tidak konsisten dan meragukan, orangtua yang tidak responsif/cekatan dapat menyebabkan perkembangan dari perilaku anak yang lekas marah, impulsif, dan juga menjadikan anak memiliki tipikal difficult

35 Specificity of Parenting Effects
Kim dkk (2003):dari sampel 897 anak-anak amerika keturunan Afrika dan membedakan mereka dalam dua kelompok, yang berumur 10 dan 12.anak-anak yang mengalami CD dan Depresi menerima perawatan yang lebih tidak memadai dari orangtuanya dibandingkan dengan anak-anak yang hanya mengalami depresi.

36 The Social Contextpada anak usia pra-sekolah, dipercaya berhubungan dengan peer rejection/penolakan oleh kawan sebaya.saat anak yang berperilaku agresif mungkin dikucilkan/ditolak oleh rekan-rekannya yang berperilaku prososial, mereka condong untuk diterima di kelompok teman sebaya yang antisosial yang dapat mentolerir atau memaklumi masalah perilaku yang dialami.Menyebabkan anak menjadi lebih nyaman menghabiskan waktu dengan kelompoknya tersebut

37 The Cultural Context The Neighborhood
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang erat dengan kemiskinan dan kekerasan lebih cenderung untuk mengembangkan perilaku antisosial dan CD (Osofsky, 1995).Secara jelas, budaya geng pada daerah pelosok kota menyediakan alternative bagi para pemuda yang mungkin berpikir harus bergabung untuk dapat “selamat”.Peneliti mengumpulkan data dari 294 anak laki-laki amerika ketrurunan afrika dan juga yang berasal dari Amerika Latin, yang dipantau perkembangannya setiap tahun selama 6 tahun.

38 Hasilnya menunjukkan bahwa pengasuhan yang baik oleh orangtua dapat menurunkan tingkat efek dari disorganisasi komunitas. 

39 EthnicityPada anak-anak Amerika keturunan Afrika versus anak-anak Amerika keturunan Eropa, ditemukan anak-anak Amerika keturunan Afrika lebih banyak yang tinggal di kawasan yang terpisah (secara sosial), yang dicirikan dengan tingginya angka kejahatan, kurangnya sumber-sumber penghidupan yang layak, dan juga kemiskinan.

40 School EnvironmentKetika anak merasa dikucilkan di sekolahnya, baik oleh guru maupun oleh teman-temannya, anak akan cenderung untuk meningkatkan perilakunya yang negatif dan juga memiliki harapan juga kepercayaan yang rendah terhadap diri mereka sendiri yang pada akhirnya membatasi diri mereka untuk dapat melakukan tindakan yang prososial.

41 Media Influencesstudi laboratorium menunjukkan bahwa meningkatnya tontonan terhadap hal-hal yang bersifat agresif dapat meningkatkan terjadinya perilaku agresif yang lebih lanjut.Anak-anak yang sering menonton adegan kekerasan di televisi pada saat sekolah dasar akan lebih sering terlibat dalam hal-hal yang berkaitan dengan kriminalitas dan kekerasan seperti orang dewasa.

42 Sex Role Socialization
Cohen dkk (1996):masculine socialization pada perkembangan perilaku agresi pria.Mereka menjelaskan bahwa etik maskulin bagi orang Amerika Selatan sebagai suatu “culture of honor”/”budaya kehormatan” yang mengharuskan seorang pria agar dapat menggunakan kekuatan fisiknya untuk mempertahankan dirinya dari berbagai cercaan terhadap reputasi yang mereka terima.Diinterpretasikan sebagai hasil social learning

43 Intervention Behavioral Approach: parent Management Training
dikembangkan oleh Patterson, berdasarkan model dari hubungan maladaptive orangtua-anak sebagai pusat dari penyebab/etiologi CDpenggunaan reinforcement positif untuk perilaku prososial yang muncul dan penggunaan hukuman ringan seperti kursi “time-out”.

44 Multisystemic Therapy
Treatment yang dilakukan bersifat untuk individual dan flexible, menawarkan berbagai jenis intervensi tergantung dari kebutuhan-kebutuhan khusus yang dimiliki anak.Terapis menerapkan suatu model yang aktif, praktis, dan berfokus pada pendekatan memberi solusi.

45 PreventionKombinasi dari pelatihan manajemen keluarga untuk orangtua dan pelatihan kemampuan pemecahan masalah interpersonal untuk anak-anak memiliki dampak yang baik bagi pencegahan perilaku agresi untuk anak usia TK dan usia sekolah yang berisiko

46 Prevention of school Violence
Salah satunya adalah dengan cara mencegah bullying yang terjadi di sekolah yang dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi perkembangan anak di sekolah (U.S. Department of Education 2002).Keuntungan dari program tersebut adalah bahwa guru lebih dilatih untuk mengimplementasikan dan dapat menyediakan penguatan pada saat pembelajaran di kelas maupun ketika di lapangan bermain saat jam sekolah.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama