Nama : Trio Panji Yanuarsyah
Kelas : 3PA25
NPM : 17519083
Matkul : Ergonomi (M6)
Studi
Kasus
Suatu perusahaan
manufaktur menerapkan sistem produksi yang cepat dan berkesinambungan. Sehingga
produksi (mesin dan SDM yang mengontrolnya) tidak boleh berhenti, hanya
berhenti ketika akan dilakukan maintenance untuk kontrol kondisi mesin dan
melakukan pergantian sparepart,
apabila berhenti prosesnya maka perusahaan akan menderita kerugian yang sangat
besar.
Untuk menyikapi hal
tersebut, HRD mengutus Divisi HSE (Health,
Safety, and Environment) untuk membantu para pekerja agar tetap dalam
kondisi prima saat bekerja dan pergantian shift kerja menjadi efektif. Dalam
kasus tersebut, bantulah Tim HSE untuk menentukan target kerja yang akan
dilakukan!
Telah ditentukan
kerangka penelitiannya berdasarkan konsep mengenai efisiensi kerja sebagai
berikut; Masalah kesehatan mental dan masalah kebosanan / kejenuhan.
Bagaimana caranya
dan apa yang akan Anda lakukan agar perusahaan tersebut dapat mempunyai proses
produksi yang baik dengan menggunakan kerangka penelitian tersebut untuk
mewujudkan konsep efisiensi kerja.
JAWAB
Divisi HSE (Health, Safety, and Environment) untuk
membantu para pekerja agar tetap dalam kondisi prima saat bekerja dan
pergantian shift kerja menjadi efektif dengan cara melakukan pelatihan kepada
karyawan perusahaan manufaktur. Selain kerusakan alat, downtime bisa terjadi karena kesalahan pengoperasian mesin. Oleh
karena itu, perusahaan harus melakukan pelatihan yang komprehensif agar
operator dapat memiliki kemampuan untuk mendeteksi mesin mana yang mulai
mengalami kerusakan. Selain memahami cara mengoperasikan alat, proses produksi
akan jauh lebih maksimal jika operator bisa mengetahui dan mengatasi masalah
kecil yang terjadi pada alat tersebut.
Health and Safety Executive
(HSE) membuat manajemen standar untuk mengatasi atau mengurangi stress di tempat
kerja. Guidance atau manajemen standar yang dikeluarkan oleh HSE mencakup enam
(6) elemen penting dalam mengendalikan stress kerja ditempat kerja. Jika enam
elemen tersebut tidak ditangani dengan baik, maka akan dapat berdampak terhadap
kesehatan pekerja, kesejahteraan pekerja, produktivitas kerja, kecelakaan
kerja, kenyamanan bekerja, hubungan kerja, dan lain-lain.
Enam elemen penting
yang harus ditangani secara baik dan berkelanjutan adalah sebagai berikut:
a.
Tuntutan – seperti beban kerja,
pola kerja dan lingkungan kerja.
1) Standar: Pekerja harus mampu menunjukkan bahwa mereka dapat mengatasi
tuntutan kerja yang diberikan kepada mereka. Terdapat sistem atau proses untuk
menanggapi setiap keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Perusahaan memberikan beban kerja atau
tuntuan kerja yang sesuai atau dapat dicapai/diselesaikan berdasarkan waktu
kerja yang disepakati. Tuntutan pekerjaan yang diberikan disesuaikan dengan
keterampilan dan kemampuan pekerja. Pekerjaan yang diberikan harus sesuai dengan
kemampuan pekerja. Keluhan pekerja terhadap pekerjaan harus dibicarakan
penyelesaiannya.
b.
Kontrol – berapa banyak pekerja
mengatakan bahwa mereka telah melakukan pekerjaan mereka sesuai SOP namun
gagal.
1) Standar: Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menjelaskan cara
kerja yang mereka lakukan. Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap
keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Pekerja harus mampu mengontrol pekerjaan
mereka. Perusahaan mendoronga pekerja untuk menggunakan keterampilan dan
inisiatip dalam melakukan pekerjaan mereka. Perusahaan mendorong pekerja untuk
mengembangkan keterampilan baru untuk membantu mereka dalam mengahadapi
tantangan baru didalam bekerja. Perusahaan mendorong pekerja untuk
mengembangkan keterampilan mereka. Pekerja memiliki otoritas untuk mengambil
waktu istirahat. Pekerja dapat berkonsultasi atas pola kerja mereka.
c.
Dukungan – seperti dorongan,
motivasi, kelengkapan sumber daya.
1) Standar: Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka menerima informasi dan
dukunganyang memadai dari atasan dan rekan-rekan kerja mereka. Terdapat sistem
atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Perusahaan harus memiliki kebijakan dan
prosedur yang cukup untuk mendukung pekerja. Terdapat sistem atau proses yang
memungkinkan manajer untuk mendorong dan mendukung staff mereka. Terdapat
sistem atau proses yang memungkinkan pekerja secara aktif mendorong dan
mendukung rekan-rekan kerja mereka. Pekerja mengetahui dukungan apa yang
tersedia dan bagaimana untuk mengaksesnya. Pekerja mengetahui bagaimana untuk
mengakses sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan mereka. Pekerja
menerima umpan balik secara berkala dan konstruktif.
d.
Hubungan – misalnya mempromosikan
perilaku positif untuk mencegah konflik terhadap perilaku negatif.
1) Standar: Pekerja menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami perlakuan
yang tidak dapat diterima, misalnya intimidasi ditempat kerja. Terdapat sistem
atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Perusahaan mempromosikan perilaku positip
ditempat kerja untuk menghindari konflik dalam menjamin keadilan. Pekerja
berbagi informasi yang relevan dengan pekerjaan mereka. Perusahaan memiliki
kebijakan dan prosedur untuk mencegah perilaku atau perlakuan yang tidak dapat
diterima. Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan dan mendorong manajer
untuk menangani perilaku atau perlakuan tidak dapat diterima. Terdapat sistem
atau proses yang memungkinkan atau mendorong pekerja untuk melaporkan perilaku
atau perlakuan yang tidak dapat diterima.
e.
Peran/tanggung jawab – apakah para
pekerja benar-benar sudah memahami tanggung jawab mereka didalam organisasi dan
apakah sudah tidak ada konflik tanggung jawab didalam organisasi.
1) Standar: Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka memahami peran dan
tanggung jawab mereka didalam pekerjaan mereka. Terdapat sistem atau proses
untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Perusahaan harus memastikan penempatan
pekerja pada tempat yang sesuai. Perusahaan harus memberikan dan menyediakan
informasi yang memungkinkan pekerja untuk memahami peran dan tanggung jawab
mereka. Perusahaan harus membuat persyaratan yang jelas untuk setiap peran dan
tanggung jawab kerja. Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan pekerja
untuk menyampaikan setiap konflik atau masalah yang muncul didalam peran dan
tanggung jawab kerja mereka.
f.
Perubahan – apakah setiap
perubahan sudah dikomunikasikan dengan baik kepada seluruh pekerja.
1) Standar: Pekerja dapat menunjukkan bahwa perusahaan melibatkan mereka
didalam melakukan perubahan. Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi
setiap keluhan pekerja.
2) Kondisi yang harus dicapai: Perusahaan memberikan kesempatan atau waktu yang cukup kepada pekerja untuk memahami alasan-alasan perubahan yang diusulkan. Perusahaan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk berkonsultasi tentang perubahan dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memberikan masukkan. Pekerja menyadari dampak dari setiap perubahan pekerjaan dan jika perlu pekerja diberikan training untuk mendukung perubahan tersebut. Pekerja mengetahui waktu atau jadual untuk perubahan. Pekerja memiliki akses untuk mendapatkan dukungan yang relevan selama perubahan.
Penerapan guideline
penanganan stress ditempat kerja :
Ada lima (6) tahapan yang harus
dilakukan dalam menerapkan standar ini, yaitu:
a.
Menyiapkan organisasi untuk
menerapkan manajemen standar penanganan stress ditempat kerja, seperti komitmen
top manajemen untuk mendukung program ini, menyediakan sumber daya yang cukup
dan team yang akan bekerja untuk program ini.
b.
Melakukan identifikasi
faktor-faktor risiko stress ditempat kerja dengan terlebih dahulu memahami
standar penanganan stress ditempat kerja.
c.
Mengumpulkan data-data pekerja
yang mengalami stress dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi.
d.
Melakukan evaluasi terhadap
data-data stress yang diperoleh dan mencari solusi yang mungkin dilakukan.
e.
Membuat rencana tindakan atau
program penanganan stress dan menerapkan rencana tersebut.
f.
Melakukan tinjauan ulang dan kajian
efektifitas program penanganan stress yang diterapkan.
Posting Komentar