1.
Pengertian produktivitas kerja
Produktifitas mengandung
pengertian filosofis, definisi kerja dan teknis operasional, secara filosofis,
produktifitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha
untuk meningkatkan mutu kehidupan. Keadaan hari ini harus lebih baik dari
kemarin, dan mutu kehidupan besok harus lebih baik dari hari ini. Pandangan
hidup dan sikap mental yang demikian akan mendorong manusia untuk tidak cepat
merasa puas dan akan terus meningkatkan kemampuan kerjanya.
Untuk definisi kerja, produktifitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu, definisi kerja ini mengandung cara atau metode pengukuran, walaupun secara teori dapat dilakukan tetapi secara praktek sukar dilaksanakan, dikarenakan sumber daya masukan yang dipergunakan umumnya terdiri dari banyak macam dengan proporsi yang berbeda. (Hasibuan Malayu S.P 2003).
Dewan Produktivitas Nasional Indonesia telah merumuskan definisi produktivitas secara lengkap yaitu sebagai berikut (Umar Husein, 2002):
a. Produktivitas pada dasarnya merupakan suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.
b. Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input).
8
c.
Produktivitas mempunyai
dua dimensi, yaitu efektivitas yang mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang
maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan
waktu. Yang kedua efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input
dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Menurut L. Greenberg dalam Sinungan (2009), mendefinisikan produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut. Produktivitas juga diartikan sebagai perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil, perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satu-satuan (unit) umum.
Kesimpulan dari uraian diatas bahwa produktivitas adalah: suatu ukuran mengenai apa yang diperoleh dari apa yang dibutuhkan. Karyawan memegang peranan utama dalam proses peningkatan produktivitas, karena alat produksi dan teknologi pada hakikatnya merupakan hasil karya manusia. Produktivitas karyawan mengandung pengertian pernbandingan hasil yang dicapai karyawan dengan jangka waktu tertentu.
2. Faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas
Untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi, suatu perusahaan dalam proses produksi tidak hanya membutuhkan bahan baku dan tenaga kerja saja, tapi juga harus didukung faktor-faktor lainnya. Antara lain menurut Siagian adalah:
a. Pendidikan,
b. Pelatihan,
c. Penilaian prestasi kerja,
d. Sistem imbalan,
e. Motivasi, dan
f. Kepusan kerja. (Siagian, Sondang P 2003).
Untuk mendukung pendapat
Siagian, Wana Nusa dalam Sumarsono mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas kerja, yaitu :
a. Pendidikan
b. Ketrampilan
c. Disiplin
d. Motivasi
e. Sikap dan etika kerja
f. Gizi dan kesehatan
g. Tingkat penghasilan
h. Jaminan lingkungan dan iklim kerja
i. Hubungan industrial
j. Teknologi
k. Sarana produksi
l. Manajemen dan kesempatan berprestasi. (Sumarsono Sonny, 2003)
Menurut Ambar Teguh Sulistiyani dan Rosidah, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan besar kecilnya produktivitas, antara lain :
a.
Knowledge
Pengetahuan merupakan akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun non formal yang memberikan kontribusi pada seseorang di dalam pemecahan masalah, daya cipta, termasuk dalam melakukan atau menyelesaikan pekerjaan. Dengan pengetahuan yang luas dan pendidikan yang tinggi, seorang pegawai diharapkan mampu melakukan pekerjaan dengan baik dan produktif.
b. Skills
Ketrampilan adalah
kemampuan dan penguasaan teknis operasional mengenai bidang tertentu, yang
bersifat kekaryaan. Ketrampilan diperoleh melalui proses belajar dan berlatih.
Ketrampilan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan atau
menyelesaikan pekerjaan- pekerjaan yang bersifat teknis. Dengan ketrampilan
yang dimiliki seorang pegawai diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan secara
produktif.
c.
Abilities
Abilities atau kemampuan terbentuk dari sejumlah kompetensi yang dimilki oleh seorang pegawai. Konsep ini jauh lebih luas, karena dapat mencakup sejumlah kompetensi. Pengetahuan dan ketrampilan termasuk faktor pembentuk kemampuan. Dengan demikian apabila seseorang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi, diharapkan memilki ability yang tinggi pula.
d. Attitude
Attitude merupakan suatu kebiasaan yang terpolakan. Jika kebiasaan yang terpolakkan tersebut memilki implikasi positif dalam hubungannya dengan perilaku kerja seseorang maka akan menguntungkan. Artinya apabila kebiasaan-kebiasaan pegawai adalah baik, maka hal tersebut dapat menjamin perilaku kerja yang baik pula. Dapat dicontohkan seorang pegawai mempunyai kebiasaan tepat waktu, disiplin, simple, maka perilaku kerja juga baik, apabila diberi tanggung jawab akan menepati aturan dan kesepakatan.
e. Behaviors
Demikian dengan perilaku manusia juga akan ditentukan oleh kebiasaan kebiasaan yang telah tertanam dalam diri pegawai sehingga dapat mendukung kerja yang efektif atau sebaliknya. Dengan kondisi pegawai
tersebut, maka produktivitas dapat dipastikan akan dapat terwujud. (Ambar Teguh & Rosidah, 2003).
Rivianto dalam Sinungan
(2009), produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang
berhubungan dengan tenaga maupun faktor- faktor lain seperti: pendidikan dan
ketrampilan, karena pada dasarnya pendidikan dan latihan meningkatkan
ketrampilan kerja; ketrampilan fisik dipengaruhi oleh gizi dan kesehatan dimana
faktor gizi dan kesehatan dipengaruhi oleh tingkat penghasilan; penggunaan
sarana-sarana produksi alat yang digunakan (manual, semi manual, mesin),
teknologi dan lingkungan kerja; kemampuan manajerial menggerakan dan
mengarahkan tenaga kerja dan sumber-sumber yang lain, serta kesempatan yang
diberikan.
Menurut Moekijat (1999) produktifitas karyawan perusahaan dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut:
a. Kualitas dan kemampuan fisikal karyawan
Kualitas dan kemampuan karyawan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos, mental dan kemampuan fisik karyawan.
b. Sarana pendukung
Sarana pendukung atau peningkatan produktifitas kerja karyawan dapat dikelompokkan pada dua golongan, yaitu:
1) Menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan cara produksi sarana, dan peralatan produksi, tingkat keselamatan dan kesehatan serta suasana di lingkungan kerja itu sendiri.
2) Menyangkut kesejahteraan karyawan yang tercermin di sistem pengupahan dan jaminan kelangsungan kerja.
c. Supra sarana
Aktifitas perusahaan
tidak terjadi di isolasi. Apa yang terjadi di dalam perusahaan dipengaruhi oleh
apa yang terjadi diluarnya, seperti sumber faktor produksi yang akan digunakan,
prospek pemasaran, perpajakan perijinan, dll. (Simanjuntak J. Payaman,1995).
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Slamet Saksono mengatakan bahwa tinggi rendahnya tingkat produktivitas karyawan tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut adalah :
a. Adanya etos kerja yang merupakan sikap hidup yang bersedia bekerja keras demi masa depan yang lebih baik, semangat untuk mampu menolong dirinya sendiri, berpola hidup sederhana, mampu bekerjasama dengan sesama manusia dan mampu berfikir maju dan kreatif.
b. Mengembangkan sikap hidup disiplin terhadap waktu dan dirinya sendiri dalam arti mampu melaksanakan pengendalian terhadap peraturan, disiplin terhadap tugasndan tanggung jawabnya sebagai manusia.
c. Motivasi dan orientasi kemasa depan yang lebih baik. Bekerja dengan produktif oleh dorongan / motivasi untuk mencapai masa depan yang lebih baik. (Slamet Saksono, 1997).
Kemampuan manajemen menggunakan sumber-sumber maksimal dan menciptakan sistem kerja yang optimal akan menentukan tinggi rendahnya produktivitas kerja karyawan. (Simanjuntak J. Payaman,1995). Menurut Sondang P. Siagian, produktivitas dapat mencapai hasil yang maksimal
apabila ketiga faktornya dapat terpenuhi dan dilaksanakan. Adapun ketiga faktor tersebut adalah:
a. Produktivitas dikaitkan dengan waktu
Dalam hal ini
berhubungan dengan penetapan jadwal pekerjaan menurut prosentase waktu yang digunakan,
misalnya kapan seseorang harus memulai dan berhenti bekerja. Kapan harus
memulai kembali bekerja dan kapan pula akan berakhir dan sebagainya. Dengan
adanya penjadwalan waktu yang baik, kemungkinan terjadinya pemborosan baik SDM
maupun SDA dapat dihindari.
b. Produktivitas dikaitkan dengan sumber daya insani
Untuk melihat keterkaitan produktivitas dengan sumber daya insani, manager / pimpinan perusahaan tersebut bisa melihat dan segi teknis semata. Dengan kata lain meningkatkan produktivitas kerja juga menyangkut kondisi, iklim, dan suasana kerja yang baik.
c. Produktivitas dikaitkan dengan sarana dan prasarana kerja
Untuk dapat tercapainya produktivitas kerja tidak terlepas dari faktor sarana serta prasarana yang ada dalam perusahaan tersebut. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga tidak terjadi pemborosan dalam bentuk apapun. Selain itu dimungkinkan bahwa sarana dan prasarana yang tersedia mempunyai nilai dan masa pakai yang setinggi mungkin. (Siagian Sondang P,).
Secara makro faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah :
a) Status sosial ekonomi, b) Kualitas fisik, c) Teknostruktur, d) Kualitas non fisik, e) Peraturan birokrasi, dan f) Gaya kepemimpinan. (Mulyono Mauled. 1993). Sedangkan T. Hani Handoko mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan yaitu motivasi, kepuasan
kerja, tingkat stress, kondisi fisik karyawan, sistem kompensasi, desain pekerjaan dan aspek-aspek ekonomis, teknis serta perilaku lainnya. (Handoko, T. Hani).
Sedangkan menurut
Ravianto mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas
karyawan itu antara lain (Ravianto, 1986):
1) Pendidikan
2) Lingkungan dan iklim kerja
3) Keterampilan
4) Hubungan industrial
5) Sikap dan etika kerja
6) Teknologi
7) Motivasi
8) Gizi dan kesehatan
9) Sarana produksi
10) Tingkat penghasilan
11) Manajemen
12) Jaminan social Kesempatan berprestasi
3. Usaha-usaha peningkatan produktivitas tenaga kerja
Guna mencapai efisiensi, produktivitas karyawan sangat diperlukan. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain (Ravianto, 1986):
a. Peningkatan pendidikan
Pendidikan dan latihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan kerja. Latihan dapat dilakukan di dalam maupun di luar pekerjaan. Latihan yang dilakukan umumnya bersifat formal.
b. Perbaikan penghasilan dan pengupahan
Perbaikan pengupahan
pada akhirnya akan dapat menjamin perbaikan gizi dan kesehatan. Kekurangan gizi
masyarakat bukan saja menghambat pertumbuhan anak-anak tetapi juga secara
langsung mempengaruhi produktivitas karyawan. Rendahnya tingkat pendapatan menyebabkan seseorang tidak
dpat memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan dan kesehatan
yang memadai, yang lebih lanjut menyebabkan produktivitas yang rendah.
c. Pemilihan teknologi sarana pelengkap untuk berproduksi
Seseorang yang menggunakan peralatan yang lengkap dan sempurna lebih tinggi produktivitasnya dibandingkan dengan orang yang menggunakan peralatan yang lebih sederhana.
d. Peningkatan kemampuan pimpinan
Kemampuan dan tingkat produktivitas kerja yang tinggi dari karyawan tidak ada begitu saja jika tidak didukung oleh pimpinan yang kreatif dan partisipatif. Untuk itulah pihak manajemen sangat diperlukan partisipasinya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa seorang karyawan yang memiliki produktivitas tinggi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: pendidikan, lingkungan dan iklim kerja, keterampilan, hubungan industrial, sikap dan etika kerja, teknologi, motivasi, gizi dan kesehatan, sarana produksi, tingkat penghasilan, manajemen, jaminan sosial. Melalui produktivitas kerja, keterampilan dapat ditingkatkan, demikian juga kualitas dan kemampuan kerja seseorang dapat bertambah dan berkembang sehingga dengan demikian efisiensi dan efektivitas kerjapun meningkat.
4. Ciri – ciri pegawai yang produktif
Ranftl dalam Timpe
(2000), mengemukakan ciri-ciri pegawai yang produktif sebagai berikut; a).
lebih dari memenuhi kualifikasi pekerjaan; kualifikasi pekerjaan dianggap hal
yang mendasar, karena produktivitas tinggi tidak mungkin tanpa kualifikasi yang
benar; b). bermotivasi tinggi; motivasi sebagai faktor kritis, pegawai yang
bermotivasi berada pada jalan produktivitas tinggi; c). mempunyai orientasi
pekerjaan positif; sikap seseorang terhadap tugasnya sangat mempengaruhi
kinerjanya, faktor positif dikatakan sebagai faktor utama produktivitas
pegawai; d). dewasa; pegawai yang dewasa memperlihatkan kinerja yang konsisten
dan hanya memerlukan pengawasan minimal; e). dapat bergaul dengan efektif;
kemampuan untuk menetapkan hubungan antar pribadi yang positif adalah aset yang
sangat meningkatkan produktivitas.
Sudarmayanti dalam Umar (2000), mengutip tentang ciri-ciri individu yang produktiv dari Erich dan Gilmore, yaitu : a). tindakan konstruktif; b). percaya diri; c). mempunyai rasa tanggung jawab; d). memiliki rasa cinta terhadap pekerjaannya; e). mempunyai pandangan kedepan; f). mampu menyelesaikan persoalan; g). dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah; h). mempunyai konstribusi positif terhadap lingkungan; i). mempunyai kekuatan untuk mewujudkan potensinya.
5. Pengukuran produktivitas kerja
Untuk mengukur produktivitas sering kali tidak dapat dilihat dan sulit untuk diukur, menggunakan teknik – teknik pengukuran yang dapat diketahui suatu produktivitas, untuk itu akan dikemukakan beberapa cara untuk mengukur produktivitas kerja yaitu: Ilyas (1999), mengemukakan pengukuran produktivitas dengan dua cara: “physical productivity” dan “value productivity”. Yang dimaksud dengan pengukuran physical productivity
adalah pengukuran
produktivitas secara kuantitatif dengan unit pengukuran dapat berupa ukuran
(size), panjang, jumlah unit, berat, waktu dan jumlah sumber daya manusia.
Sedangkan value productivity adalah pengukuran produktivitas dengan menggunakan
nilai uang sebagai tolak ukur sehingga tingkat produktivitas dikonversi
kebentuk rupiah.
Hanson dalam Swansburg dan Swansburg (1999), menyatakan bahwa produktivitas dapat diukur dengan menghitung jumlah jam kerja perawat pada pasien per hari. Model lain menurut Curtin Swansburg dan Swansburg (1999), bahwa produktivitas dalam keperawatan dihubungkan dengan penerapan ilmu pengetahuan. Produktivitas professional dapat diukur dari kemanjuran (efficacy), efektifitas dan efisiensi dalam menerapkan pengetahuannya. Curtin menunjukkan bahwa proses ini dapat diukur secara obyaktif, sebagai berikut:
a. Tujuan pengukuran kemanjuran (efficacy); masa pendidikan formal, penghargaan akademis, keterangan melanjutkan pendidikan ketrampilan serta pengalaman.
b. Tujuan pengukuran efektifitas; menunjukkan kemampuan dalam melaksanakan prosedur, ketepatan memprioritaskan kegiatan, penampilan kerja secara profesional dan sesuai dengan standar, memberikan informasi yang jelas dan tepat pada orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.
c. Tujuan pengukuran efisiensi; sikap yang cepat tanggap, kehadiran, tahan uji, ketelitian, dapat beradaptasi dan secara ekonomis dapat melakukan penghematan.
Metode dalam pengukuran produktivitas menurut Sinungan dalam Hasibuan secara umum berarti perbandingan, yang dapat dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda, yaitu :
a. Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan bahwa apakah pelaksanaan ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan apakah mutu berkurang atau meningkat serta tingkatannya.
b.
Perbandingan pelaksanaan
antara satu unit (perorangan tugas, seksi, proses) dengan yang lainnya.
Pengukuran ini menunjukkan pencapaian secara
relatif.
c. Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang terbaik, sebab memusatkan perhatian pada sasaran/ tujuan. (Simamora Henry, 2004).
Dari cara pengukuran produktivitas kerja tersebut, maka dapat dicari cara paling efektif dan lebih operasional dalam mengukur tingkat produktivitas kerja karyawan, yaitu pengukuran tingkat produktivitas kerja menurut J. Ravianto dalam Hasibuan. Secara teknis, produktivitas tenaga kerja dapat dilihat dengan rumus :
Hasil sebenarnya
Produktivitas TK = Total hari kerja sebenarnya Keterangan :
a. Hasil sebenarnya adalah hasil aktual per periode tertentu
b. Total hari kerja sebenarnya adalah merupakan hasil perkalian antara jumlah karyawan pada suatu periode tertentu dengan hari kerja aktif dalam periode yang bersangkutan.
Pengukuran produktivitas ini mempunyai peranan penting untuk mengetahui produktivitas kerja dari para karyawan sehingga dapat diketahui sejauh mana produktivitas yang dapat dicapai oleh karyawan. Selain itu pengukuran produktivitas akan juga dapat digunakan sebagai pedoman bagi
para manajer untuk meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan.
6. Manfaat dari Penilaian Produktivitas Kerja
Kegunaan :
a.
Umpan balik pelaksanaan
kerja untuk memperbaiki produktivitas kerja karyawan.
b. Evaluasi produktivitas kerja digunakan untuk penyelesaian- penyelesaian, misalnya: pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
c. Untuk keputusan-keputusan penetapan, misalnya : promosi, transfer, dan demosi.
d. Untuk kebutuhan latihan dan pengembangan.
e. Untuk perencanaan dan pengembangan karier.
f. Untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan proses staffing.
g. Untuk mengetahui ketidak-akuratan informal.
h. Untuk memberikan kesempatan kerja yang adil. (Sinungan, M.
2000).
B. Pengalaman Kerja
1.
Definisi Pengalaman Kerja
Manager harus mempertimbangkan beberapa faktor yang dimiliki oleh seorang pekerja untuk menempatkan tenaga kerja. Faktor-faktor tersebut mungkin sangat berpengaruh terhadap kontinuitas suatu perusahaan. Salah satu faktor tersebut ialah pengalaman kerja. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya kecenderungan makin lama banyak pengalaman kerja yang dimiliki oleh tenaga kerja tersebut dan memberikan kecenderungan bahwa yang bersangkutan memiliki keahlian dan keterampilan kerja yang relatif tinggi.
Sebaliknya keterbatasan pengalaman kerja maka semakin rendah keahlian dan keterampilan kerja yang bersangkutan.
Pengalaman kerja adalah
modal utama seseorang untuk terjun ke dalam suatu bidang pekerjaan. Pengalaman
kerja seseorang harus lebih dihargai daripada pendidikan yang tinggi (Siswanto,
1987). Pengalaman kerja yang dimiliki oleh seseorang yang dapat bekerja dengan
lebih efisien sehingga akan menguntungkan perusahaan.
Pengalaman kerja adalah faktor yang cukup penting dalam pengadaan tenaga kerja. Demi melaksanakan pengadaan tenaga kerja perlu diperhitungkan dan ditentukan dahulu kualitas ataupun mutu tenaga kerja yang dibutuhkan. Salah satu persyaratan kerja adalah pengalaman kerja. Suatu perusahaan akan lebih cenderung memilih pelamar yang sudah berpengalaman daripada yang tidak berpengalalaman karena dipandang lebih mampu dalam melaksanakan tugas (Martoyo, 1987).
Pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatan karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan (Manulang, 1984). Pengalaman kerja adalah ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik (Ranupandojo, 1984). Pengalaman kerja adalah pengetahuan atau keterampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang yang akibat dari perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu (Trijoko, 1980).
Menurut uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja adalah tingkat penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam pekerjaannya yang dapat diukur dari masa kerja dan dari tingkat pengetahuan serta keterampilan yang dimilikinya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengalaman bekerja
Mengingat pentingnya
pengalaman bekerja dalam suatu perusahaan, maka dipikirkan juga tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja. Menurut Djauzak (2004:57),
faktor- faktor yang dapat mempengaruhi pengalaman kerja seseorang adalah waktu,
frekuensi, jenis, tugas, penerapan, dan hasil. Dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Waktu
Semakin lama seseorang melaksanakan tugas akan memperoleh pengalaman bekerja yang lebih banyak.
b. Frekuensi
Semakin sering melaksanakan tugas sejenis umumnya orang tersebut akan memperoleh pengalaman kerja yang lebih baik.
c. Jenis tugas
Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan oleh seseorang maka umunya orang tersebut akan memperoleh pengalaman kerja yang lebih banyak.
d. Penerapan
Semakin banyak penerapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam melaksanakan tugas tentunya akan dapat meningkatkan pengalaman kerja orang tersebut.
e. Hasil
Seseorang yang memiliki pengalaman kerja lebih banyak akan dapat memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang lebih baik.
Ada beberapa hal juga untuk menentukan berpengalaman tidaknya seorang karyawan yang sekaligus sebagai indikator pengalaman kerja menurut (Foster, 2001 : 43) yaitu :
a. Lama waktu/ masa kerja.
Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
b. Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Pengetahuan
merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang
dibutuhkan oleh karyawan. Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami
dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan.
Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan.
c. Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek-aspek tehnik peralatan dan tehnik pekerjaan.
3. Pengukuran Pengalaman Kerja
Pengukuran pengalaman kerja sebagai sarana untuk menganalisa dan mendorong efisiensi dalam pelaksanaan tugas pekerjaan. Beberapa hal yang digunakan untuk mengukur pengalaman kerja seseorang adalah:
a. Gerakannya mantap dan lancar. Setiap karyawan yang berpengalaman akan melakukan gerakan yang mantap dalam bekerja tanpa disertai keraguan.
b. Gerakannya berirama, artinya terciptanya dari kebiasaan dalam melakukan pekerjaan sehari - hari.
c. Lebih cepat menanggapi tanda - tanda, artinya tanda - tanda seperti akan terjadi kecelakaan kerja.
d. Dapat menduga akan timbulnya kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya karena didukung oleh pengalaman kerja dimilikinya maka seorang pegawai yang berpengalaman dapat menduga akan adanya kesulitan dan siap menghadapinya.
e.
Bekerja dengan tenang.
Seorang pegawai yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya diri yang cukup
besar. (Asri, 1986).
Selain itu ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja karyawan. Beberapa faktor lain mungkin juga berpengaruh dalam kondisi-kondisi tertentu, tetapi tidak mungkin untuk menyatakan secara tepat semua faktor yang dicari dalam diri karyawan yang potensial. Beberapa faktor tersebut adalah:
a. Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja. Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang lalu.
b. Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau kemampuan seseorang.
c. Sikap dan kebutuhan (attitudes and needs) untuk meramalkan tanggung jawab dan wewenang seseorang.
d. Kemampuan-kemampuan analitis dan manipulatif untuk mempelajari kemampuan penilaian dan penganalisaan.
e. Keterampilan dan kemampuan teknik untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek - aspek teknik pekerjaan (Handoko, 1984).
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki gerakan yang mantap dan lancar, gerakannya berirama, lebih cepat menanggapi tanda - tanda, dapat menduga timbulnya kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya, dan bekerja dengan tenang serta dipengaruhi faktor lain yaitu: lama waktu/masa kerja seseorang,
tingkat pengetahuan atau
keterampilan yang telah dimiliki dan tingkat penguasaan terjadap pekerjaan dan
peralatan. Oleh karena itu, seorang karyawan yang mempunyai pengalaman kerja
adalah seseorang yang mempunyai kemampuan jasmani, memiliki pengetahuan, dan
keterampilan untuk bekerja serta tidak akan membahayakan bagi dirinya dalam
bekerja.
Melalui pengalaman kerja, pengetahuan teknis dan keterampilan dapat ditingkatkan, demikian juga kualitas dan kemampuan kerja seseorang dapat bertambah dan berkembang sehingga dengan demikian efisiensi dan efektivitas kerjapun meningkat.
4. Cara Memperoleh Pengalaman Kerja
Pengalaman cukup penting artinya dalam proses seleksi pegawai karena suatu organisasi atau perusahaan akan cenderung memilih pelamar yang berpengalaman, mereka yang berpengalaman dipandang lebih mampu dalam melaksanakan tugas yang nanti akan diberikan.
Syukur (2001: 83) menyatakan bahwa cara yang dapat dilaksanakan untuk memperoleh pengalaman kerja adalah melalui pendidikan, pelaksanaan tugas, media informasi, penataran, pergaulan, dan pengamatan. Penjelasan dari cara memperoleh pengalaman kerja adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan
Berdasarkan pendidikan yang dilaksanakan oleh seseorang, maka orang tersebut dapat memperoleh pengalaman kerja yang lebih banyak dari sebelumnya.
b. Pelaksanaan tugas
Melalui pelaksanaan tugas sesuai dengan kemampuannya, maka seseorang akan semakin banyak memperoleh pangalaman kerja.
c. Media informasi
Pemanfaatan berbagai media informasi, akan mendukung seseorang untuk memperoleh pengalaman kerja yang lebih banyak.
d. Penataran
Melalui kegiatan
penataran dan sejenisnya, maka seseorang akan memperoleh pengalamanan kerja
untuk diterapkan sesuai dengan kemampuannya.
e. Pergaulan
Melalui pergaulan dalam kehidupan sehari-hari, maka seseorang akan memperoleh pengalaman kerja untuk diterapkan sesuai dengan kemampuannya.
f. Pengamatan
Selama seseorang mengadakan pengamatan terhadap suatu kegiatan tertentu, maka orang tersebut akan dapat memperoleh pengalaman kerja yang lebih baik sesuai dengan taraf kemampuannya.
5. Manfaat Pengalaman Kerja
Suatu perusahaan akan cenderung memilih tenaga kerja yang berpengalaman dari pada yang tidak berpengalaman. Hal ini disebabkan mereka yang berpengalaman lebih berkualitas dalam melaksanakan pekerjaan sekaligus tanggung jawab yang diberikan perusahaan dapat dikerjakan sesuai dengan ketentuan atau permintaan perusahaan. Maka dari itu pengalaman kerja mempunyai manfaat bagi perusahaan maupun karyawan.
Manfaat pengalaman kerja adalah untuk kepercayaan, kewibawaan, pelaksanaan pekerjaan, dan memperoleh penghasilan. Berdasarkan manfaat masa kerja tersebut maka seseorang yang telah memiliki masa kerja lebih
lama apabila dibandingkan dengan orang lain akan memberikan manfaat seperti :
a. Mendapatkan kepercayaan yang semakin baik dari orang lain dalam pelaksanaan tugasnya.
b.
Kewibawaan akan semakin
meningkat sehingga dapat mempengaruhi orang lain untuk bekerja sesuai dengan
keinginannya.
c. Pelaksanaan pekerjaan akan berjalan lancar karena orang tersebut telah memiliki sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
d. Dengan adanya pengalaman kerja yang semakin baik, maka orang akan memperoleh penghasilan yang lebih baik.
Karyawan yang sudah berpengalaman dalam bekerja akan membentuk keahlian dibidangnya, sehingga dalam menyelesaikan suatu produk akan cepat tercapai. Produktivitas kerja karyawan dipengaruhi oleh pengalaman kerjakaryawan, semakin lama pengalaman kerja karyawan akan semakin mudah dalam menyelesaikan suatu produk dan semakin kurang berpengalaman kerja karyawan akan mempengaruhi kemampuan berproduksi, karyawan dalam menyelesaikan suatu produk.
Posting Komentar