FORM QUESTION
SKILL (KETERAMPILAN WAWANCARA)
VIDEO QUESTION
SKILL
Tema : Video Question Skill
Time : 9 menit 51 detik
Nama : 1. Dian Namira (11519760)
2. Ismara Aulya Padmasari (17519541)
3. Nesty Anggraini (14519757)
4. Surya Andika Ridho Mulia
Lase (16519203)
5. Trio Panji Yanuarsyah (17519083)
Kelas : 3PA25
A. Setting Fisik
1. Interviewer
Interviewer adalah seorang pria yang bernama
Andy Flores Noya (AFN), pria yang akrab disapa Andy ini adalah seorang
presenter dan pembawa acara terkenal di suatu program talk show yang sudah
banyak diketahui oleh masyarakat yaitu "Kick Andy".
Interviewer memiliki kulit putih cerah dan berambut botak. Ia memiliki mata sedikit
sipit, hidung mancung, dan memiliki kumis serta jenggot yang tebal. Ia memiliki
alis cukup tebal, bibir tipis, dan badan yang berisi. Ia juga memiliki bentuk
wajah bulat dan oval, posisi duduk santai dengan menyenderkan badan ke sofa
berwarna putih.
Interviewer menggunakan baju kemeja panjang
berwarna merah maron, celana bahan berwarna hitam, sepatu kulit serta
kaos kaki hitam. Interviewer tampak
menggunakan aksesoris seperti, dasi garis warna merah putih, kacamata hitam,
jam tangan warga hitam, serta menggunakan buku dan pulpen untuk mencatat.
2. Interviewee
Interviewee adalah seorang agen asuransi dan pembicara yang bernama
Esra Manurung (EM). Ia merupakan lulusan Universitas Kristen Indonesia (UKI).
Ia sempat menjadi guru les privat di 5 juru Jakarta serta bekerja di bank
selama 9 tahun. Ia juga merupakan anggota ambassador
Million Dollar Round Table (MDRT).
Interviewee memiliki kulit sawo matang dan berambut sebahu curly bergelombang berwarna hitam. Ia
memiliki mata agak sayu dan alis yang tipis. Memiliki hidung yang tidak terlalu
mancung dan bibir yang tipis. Ia memiliki bentuk wajah square dan rahang yang
tirus. Posisi duduk dengan badan sedikit condong ke depan dan santai
menggunakan sofa warna merah.
Interviewee menggunakan baju dan celana bahan berwarna hitam, blazer
warna hijau, serta menggunakan heels warna cokelat. Interviewee tampak menggunakan aksesoris lain seperti, kalung,
anting, dan cincin.
B. Verbatim
Interviewer : "Siapa tamu yang akan saya
undang? Mari kita sambut, Esra Manurung."
Interviewee : (Menjabat tangan Interviewer)
Interviewer : "Terima kasih sudah mau hadir
di acara Kick Andy, silakan duduk. Boleh tahu apa pekerjaan anda sekarang?"
Interviewee : "Saya agen asuransi sekaligus
speaker." (mengangguk-anggukkan kepala)
Interviewer : "Agen asuransi... pada posisi apa anda sekarang?"
Interviewee : "Hm, posisi bantu suami
bangun agency, bang."
Interviewer : "Nah, tapi sebelum itu, saya dengar anda kerja di bank, ya?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Berapa lama itu kerja di bank?"
Interviewee : "Hm, sembilan tahun saya
sempat kerja di bank, sebelum menikah sih. Punya anak, saya keluar."
Interviewer : "Anda sembilan tahun di bank,
kemudian keluar masuk ke industri asuransi. Di sini anda-"
Interviewee : (menyela) "He-eh, disuruh
suami, bang."
Interviewer : "Ini suami enggak punya
perasaan, tahu enggak?"
Interviewee : "Iya." (Tertawa)
Interviewer : "Nanti saya nasehatin
dia."
Interviewee : "Silakan, bang."
(Tertawa)
Interviewer : "Karena itu juga yang terjadi
pada saya oleh istri saya."
Interviewee : (Tertawa)
Interviewer : "Nah, ini saya tidak mengerti
istilahnya, tapi saya mau tanya karena di sini disebutkan anda sudah menjadi
anggota atau ambassador dari Million Dollar Round Table. Pengertiannya apa ini di
industri asuransi?"
Interviewee : "Hm, MDRT itu asosiasi
sebetulnya, bang Andi."
Interviewer : "Asosiasi..."
Interviewee : (Mengangguk) "Asosiasi dari
agen-agen asuransi yang mencapai prestasi hm sesuai standarnya mereka, yaitu
standar dunia."
Interviewer : "Artinya tidak semua orang yang bekerja atau jadi agen
asuransi bisa mendapatkan keanggotaan ini, begitu?"
Interviewee : "Iya. Dia harus
mencapai-"
Interviewer : "Mencapai apa? Syaratnya apa misalnya?"
Interviewee : "Mencapai...
kualifikasinya."
Interviewer : "Kualifikasinya apa?”
Interviewee : "Pertama, pasti angka."
Interviewer : "Angka.."
Interviewee : "Iya, angka pencapaian yang
mereka tentukan setiap tahun berbeda. Kemudian, yang kedua ethic-nya."
Interviewer : "Oh, jadi ada ethic di situ, ya?"
Interviewee : (Mengganggukkan kepala) "Cara
kita menjalankan pekerjaan kita."
Interviewer : "Sudah berapa tahun anda menjadi board atau
anggota atau ambassador MDRT?"
Interviewee : "Iya hm, sekarang tahun
keempat belas berturut-turut, bang."
Interviewer : "Atas prestasi anda ini di
dunia asuransi, anda sudah diminta untuk atau diundang ya untuk menjadi
pembicara di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri."
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Kalau di luar negeri-"
Interviewee : (Menyela) "Udah pernah ke
Amerika juga sih."
Interviewer : "Oke, bicara di sana?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Ke Amerika?"
Inteviewee :
"He-eh." (Tertawa)
Interviewer : "Baik, tapi setelah kita
mendengar prestasi seperti ini, saya mau kembali ke kehidupan anda di masa
lalu. Karena dari apa yang saya dengar, anda dulu ketika masih kecil sudah kehilangan ibu, ya?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Ibu yang melahirkan anak,
terus meninggal pada saat melahirkan. Kemudian, pada saat anda masih kecil ayah anda yang supir angkot itu
meninggalkan anda dan adik-adik, ya? Pergi begitu saja, hilang entah ke mana waktu itu, ya?
Terus, kemudian ada anak kecil
yang juga tewas di rumah anda karena kesetrum? Agak aneh ini
pertanyaannya, ya?"
Interviewee : (Tertawa)
Interviewer : "Kemudian anda sendiri marah pada Tuhan, ya?"
Interviewee : "He-eh."
Interviewer : "Kemudian, nyaris bunuh diri
pake piso. Saya enggak bisa membayangkan bagaimana anda sekarang dengan masa
lalu. Tapi, sebelom saya tanya soal apa yang terjadi dalam hidup anda, kita
simak dulu liputan berikut ini." (Jeda penayangan video) "Jadi, benar ya anda lahir dari
keluarga yang 'miskin', ya? Jadi, ayah supir angkot?"
Interviewee : (Menganggukkan kepala)
"Iya."
Interviewer : "Di daerah mana itu?"
Interviewee : "Kami tinggal di Cilincing,
Bang Andi. Deket hm- kalau dulu pembuangan sampah itu di Cilincing deket rumah
kami. Jadi Bang Andi sama temen-temen semua ya buang sampahnya di sana."
Interviewer : "Eh, jangan tuduh saya, ini
mereka-"
Interviewee : (Tertawa) "Kan sampah
Jakarta-"
Interviewer : "Ini baru bertemu lima menit
anda sudah mulai menuduh saya ini."
Interviewee : "Sampah Jakarta-"
Interviewer : "Tidak. Kalau ada masalah
dengan suami, jangan saya jadi pelampiasan."
Interviewee : "Oh, oke." (tertawa)
Interviewer : "Oke, berarti ayah supir
angkot, ibu pekerjaannya
apa?"
Interviewee : "Hm, mama ngurus anak-anak.
Kadang-kadang kalo lagi butuh uang, dia jualan cabe di pasar."
Interviewer : "Berapa anak ini?"
Interviewee : "Kami lima. Sebelum mama
meninggal, lima. Setelah meninggal, jadi tujuh."
Interviewer : "Oke, menarik ini ya. Ibu meninggal?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Meninggal pada saat melahirkan?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Bisa cerita sedikit apa yang terjadi waktu itu?"
Interviewee : "Hm, ibu saya sudah dikasih
tahu sama dokter, "Gugurin- Gugurkan kandungannya." karena berbahaya.
Keracunan. Tapi, menurut mama menggugurkan kandungan itu tidak benar. Jadi, dia
pertahankan kandungannya dan di usia tujuh bulan hm dia pendarahan lalu dioperasi
dan meninggal." (mengangguk-angguk)
Interviewer : "Oh, jadi ini anak kembar ini, ya?"
Interviewee : "Kembar, kembar.
Perempuan."
Interviewer : "Lahir... Dua-dua lahir, tapi
katanya prematur. Berarti
tujuh bulan itu kan prematur?"
Interviewee : "Iya, karena hm keguguran,
Bang Andi. Jadi, harus segera dioperasi."
Interviewer : "Dua-duanya selamat
atau-"
Interviewee : "Dua-duanya selamat, tapi
ibunya yang tidak selamat."
Interviewer : "Jadi, tujuh anak ditinggalkan?"
Interviewee : "Iya, ditinggal."
Interviewer : "Lalu, berapa lama kemudian ayah pergi
meninggalkan anak-anaknya?"
Interviewee : "Iya, kayaknya ayah saya
tiba-tiba kehilangan keseimbangan gitu, jadi karena mereka pasangan yang sangat
akrab seperti sahabat. Waktu mama enggak ada, dia goncang- hilang."
Interviewer : "Pergi?"
Interviewee : "Pergi." (Menganggukkan
kepala)
Interviewer : "Lah, terus anda dan adek-adek bagaimana?"
Interviewee : "Ya kaya malem mati lampu.
Gelap." (Tertawa)
Interviewer : "Saya baru tahu ada istilah 'kaya malem mati
lampu'. Tinggal bilang gelap gitu aja, kan?"
Interviewee : "Maksudnya udah gelap, mati
lampu lagi." (Tertawa)
Interviewer : "Super gelap."
Interviewee : "Super gelap."
(Menganggukkan kepala)
Interviewer : "Gelap gulita."
Interviewee : "Gelap gulita, iya."
Interviewer : "Nah, setelah ibu meninggal
karena melahirkan adek-adek anda ini, ayah pergi begitu saja karena kehilangan
keseimbangan hidup,
karena belahan hatinya meninggal, anda ditinggal bersama adek-adek?"
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Nah, bisa cerita- itu umur berapa waktu ayah
pergi?"
Interviewee : "Hm, delapan belas
lebih."
Interviewer : "Dengan enam adek? Anda ditinggal."
Interviewee : "Iya."
Interviewer : "Nah, bagaimana anak umur enam belas itu bisa bertahan
hidup kemudian bangkit seperti sekarang?"
Interviewee : "Hm."(jeda sejenak)
"Saya sih setiap hari kepengennya cuma mati, waktu itu ya. Karena ya
enggak tahan juga sih. Hm kadang-kadang kita makan hm kadang ya sekali sehari
gitu. Saya ada hm- tante yang deket rumah tapi dia juga susah. Ya kadang-kadang
tante yang suka kasih kami makan."
Interviewer : "Terus bagaimana bisa hidup?"
Interviewee : "Hm manusia itu ternyata
beradaptasi ya dengan keadaan. Hm saya waktu itu sangat negatif dengan
kehidupan, saya merasa saya tuh victim. Hm, saya merasa Tuhan itu jahat. Kenapa
pilih kasih? Kok saya yang harus menjalankan drama ini? Kenapa saya gak jadi
cucunya Ratu Elizabeth? Saya bertanya gitu."
Interviewer : "Iya, iya. Ini menarik ini.
Anak Cilincing ini, ya?"
Interviewee : "Maksudnya kalau ini karma,
saya nabur apa gitu? Jadi, menurut saya itu tidak adil."
Interviewer : "Tuhan tidak adil?"
Interviewee : "Tidak adil."
Interviewer : "Jadi, marah pada Tuhan waktu itu?"
Interviewee : "Marah. Saya enggak percaya
pada Tuhan, lalu saya merasa saya tidak tega meninggalkan adik-adik. Alasannya
tuh sebetulnya hanya adik-adik sih."
Interviewer : "Jadi, waktu itu sempet mau bunuh diri, ya?"
Interviewee : "Tiap hari."
Interviewer : "Oh, tiap hari mau bunuh diri?"
Interviewee : "Iya, tiap hari. Enggak
tahan. Tiap hari."
Interviewer : "Terus?"
Interviewee : "Tapi, setiap lihat adik-adik
enggak jadi (jeda sejenak) hm, saya enggak jadi. Kasihan kalo enggak ada saya
gimana. Akhirnya, adik saya satu meninggal, yang di inkubator. Itu meninggal.
Kemudian, hm cari akal gimana nih supaya bisa bertahan hidup. Yaudah, negosiasi
sama adik-adik. Sebagian tinggal di rumah orang, supaya bisa sekolah dan tetep
dapet makan. Jadi, jatah makan enggak terlalu banyak, ada yang di rumah
tetangga gitu."
Interviewer : "Oh, jadi adik-adik ini dititipkan ke siapa?"
Interviewee : "Hm, ada tetangga jauhlah,
yang mau aja. "Mau enggak? Mau enggak?" gitu. Ya yang mau."
(Tertawa) "Iya, kalo enggak gitu, enggak bisa bertahan, Pak Andi ya. Harus
ada jalan. Nah, kemudian setelah titipin adik di rumah orang, saya mulai
belajar jualan. Apapun saya jual, apapun saya jual. Tapi, saya tidak jual
diri." (Menggelengkan kepala) "Karena ibu saya mengajarkan itu tidak
benar. Jadi, saya jual lipstik, jual jepitan, jual gambar. Saya bikin, saya
jual. Tapi, ya enggak cukup juga."
Interviewer : "Untuk menghidupi adik-adik, ya?"
Interviewee : "He-eh." (Menganggukkan
kepala)
Interviewer : "Jadi, yang bertahan waktu itu di rumah ada berapa
adik?"
Interviewee : "Hm, kita empat. Yang satu,
yang masih di inkubator akhirnya diadopsi sama sodara jauh."
Interviewer : "Oh, satu meninggal satu diadopsi?"
Interviewee : "Satu diadopsi, satu di rumah
hm orang lain, yang lainnya enggak ada yang mau di rumah orang lain. Jadi, kita
kumpul."
Interviewer : "Kumpul... Padahal itu usianya berapa aja?
Anda kan enam belas."
Interviewee : "Oh, masih SD-SD adik-adik
saya."
Inrerviewer : "Nah, uang sekolah bagaimana itu? Itu jualan
jepit-"
Inteviewee :
(Menyela) "Iya, enggak cukup."
Interviewer : "Jepit rambut, bando, apa
segala macem..."
Interviewee : "Iya, iya, enggak cukup.
Termasuk juga uang juliah saya, enggak cukup. Lalu hm teman saya bilang,
"Kamu jadi guru les aja." Jadi, saya jadi guru les di lima penjuru
Jakarta. Jakarta Utara, Selatan, Timur, Barat, Pusat. Saya puter jadi guru
les."
Interviewer : "Les apa?"
Interviewee : "Apa aja. Kalo ada ibu-ibu
yang berkarir, anaknya enggak bikin PR, saya ajarin." (memeragakan)
Interviewer : "Anda waktu itu sekolahnya di mana?"
Interviewee : "Saya kuliah di UKI,
Universitas Kristen Indonesia-"
Interviewer : "Sempet- oh, udah- udah kuliah?"
Interviewee : "Saya kuliah. Orang tua kami
biar pun supir angkot, punya prinsip anaknya harus sekolah."
(mengangguk-anggukkan kepala).
Keterangan:
Kalimat
yang diberi highlight kuning adalah open question
Kalimat
yang diberi highlight biru adalah close question
C.
Question Skill
Open question : "Boleh
tahu apa pekerjaan anda sekarang?"
Open question : "Pada posisi apa anda sekarang?"
Close question : "Saya dengar anda kerja di bank, ya?"
Open question : "Berapa
lama itu kerja di bank?"
Open question : "Pengertiannya
apa ini di industri asuransi?"
Close question : "Artinya
tidak semua orang yang bekerja atau jadi agen asuransi bisa mendapatkan
keanggotaan ini, begitu?"
Open question : "Mencapai
apa? Syaratnya apa misalnya?"
Open question : "Kualifikasinya
apa?”
Close question : "Jadi
ada ethic di situ, ya?"
Open question : "Sudah
berapa tahun anda menjadi board atau anggota atau ambassador
MDRT?"
Close question : "Bicara di sana?"
Close question : "Ke
Amerika?"
Close question : "Anda
dulu ketika masih kecil sudah kehilangan ibu, ya?"
Close question : "Pada
saat anda masih kecil ayah anda yang supir angkot itu meninggalkan anda dan
adik-adik, ya?
Close question : "Hilang
entah ke mana waktu itu, ya?
Close question : "Kemudian
ada anak kecil yang juga tewas di rumah anda karena kesetrum?
Close question : "Kemudian
anda sendiri marah pada Tuhan, ya?"
Close question : "Jadi,
benar ya anda lahir dari keluarga yang 'miskin', ya? Jadi, ayah supir
angkot?"
Open question : "Di
daerah mana itu?"
Open question : "Ibu
pekerjaannya apa?"
Open question : "Berapa
anak ini?"
Close question : "Ibu
meninggal?"
Close question : "Meninggal
pada saat melahirkan?"
Open question : "Bisa
cerita sedikit apa yang terjadi waktu itu?"
Close question : "Jadi
ini anak kembar ini, ya?"
Close question : "Berarti
tujuh bulan itu kan prematur?"
Close question : "Tujuh
anak ditinggalkan?"
Close question : "Berapa
lama kemudian ayah pergi meninggalkan anak-anaknya?"
Close question : "Pergi?"
Open question : "Terus
anda dan adek-adek bagaimana?"
Close question : "Anda
ditinggal bersama adek-adek?"
Open question : "Itu
umur berapa waktu ayah pergi?"
Close question : "Dengan
enam adek? "
Open question : "Bagaimana
anak umur enam belas itu bisa bertahan hidup kemudian bangkit seperti sekarang?"
Open question : "Terus
bagaimana bisa hidup?"
Close question : "Tuhan
tidak adil?"
Close question : "Jadi,
marah pada Tuhan waktu itu?"
Close question : "Jadi,
waktu itu sempet mau bunuh diri, ya?"
Close question : "Tiap
hari mau bunuh diri?"
Open question : "Terus?"
Open question : "Jadi
adik-adik ini dititipkan ke siapa?"
Close question : "Untuk
menghidupi adik-adik, ya?"
Open question : "Jadi,
yang bertahan waktu itu di rumah ada berapa adik?"
Close question : "Satu
meninggal satu diadopsi?"
Open question : "Padahal
itu usianya berapa aja?"
Open question : "Uang
sekolah bagaimana itu?"
Open question : "Les
apa?"
Open question : "Anda
waktu itu sekolahnya di mana?"
Close question : "Udah
kuliah?"
Posting Komentar