FORM ATTENDING BEHAVIOR
VIDEO
ATTENDING BEHAVIOR
Tema : Video Attending
Behavior
Time :
6 menit 32 detik
Nama : 1. Dian Namira (11519760)
2. Ismara Aulya Padmasari (17519541)
3. Nesty
Anggraini (14519757)
4. Surya Andika Ridho Mulia Lase (16519203)
5. Trio Panji Yanuarsyah (17519083)
Kelas :
3PA25
Kelompok : 6 (Video B)
A. Setting Fisik
1. Interviewer
Interviewer adalah seorang wanita yang bernama Najwa Shihab (NS),
wanita yang akrab disapa Nana ini adalah pembawa acara terkenal di suatu
program talkshow yang sudah banyak diketahui oleh masyarakat adalah “Mata
Najwa”. Interviewer memiliki kulit
kuning langsat dan berambut pendek sebahu berwarna coklat bergelombang.
Memiliki mata bulat dan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung dengan bibir
sedikit tebal dan alis yang tebal. Interviewer
memiliki bentuk wajah triangle serta
rahang yang cukup terlihat, posisi duduk dengan badan sedikit condong ke depan
dan santai. Interviewer memakai baju
berwarna putih coklat dan tampak menggunakan aksesoris seperti jam tangan saat
menyibak rambut, dan menggunakan cincin di jari manis serta menggunakan anting
berwarna putih. Interviewer terlihat
memegang buku dan iPad saat
membacakan sebuah pertanyaan kepada interviewee.
2. Interviewee
Interviewee adalah seorang artis terkenal yang bernama Maudy Ayunda
(MA). Ia merupakan lulusan Harvard dan Stanford. Interviewee memiliki kulit cerah dan berambut panjang curly bergelombang dan berwarna hitam
pekat. Memiliki mata sipit dan alis yang cukup tebal. Hidungnya mancung dan
mungil dengan bibir tipis serta memiliki gigi kelinci. Interviewee memiliki
bentuk wajah oval dan kecil, posisi duduk dengan badan sedikit condong ke depan
dan santai. Interviewee menggunakan
baju kaos berwarna hitam dan jaket berwarna putih.
B. Verbatim
Interviewer : “Embel embel artis tuh
terkadang membuat orang punya miss Wah. kalau artis pasti enaknya aja, ini nya
aja, mengandalkan fisik aja dan sebagainya
seringkali itu ya.”
Interviewee : “Iya
dan juga banyak yang event dalam aku,
waktu aku galau 2 3 tahun lalu pada
saat memilih karir gitu itu banyak juga yang ngomongin kayak “Oh ngapain jadi
artis? Udah sekolah tinggi tinggi.” Kayak gitu seakan akan tuh, itu 2 hal yang
gak bisa dilakukan.”
Interviewer
:
“Dilakukan dan seolah olah kalau artis gak perlu sekolah tinggi.”
Interviewee : “Atau kayak itu sesuatu
yang gak, misalnya artis itu sesuatu yang gak intelak, intelektual gitu and I don’t agree gitu karena sebenernya
dalam temen temen musisi berkarya in the
way that they do, their work. They produce music and produce lyrics and
atau misalnya didunia perfilman yang orang orang membuat karya yang itu sangat sangat
intelektual gitu loh.”
Interviewer : “Tapi
pendidikan emang selalu jadi hal yang kayak bagian dari Maudy yang yang sangat
penting ya.”
Interviewee : “Mm iya karena aku tuh, mm aku tuh cinta banget ini
aneh dan ini bakal terdengar aneh tapi aku memang sangat ee cinta belajar dan
sangat enjoy gitu loh. Jadi aku
bener-bener bisa yang.”
Interviewer : “Mm gak sih gak aneh.”
Interviewee : “Gak aneh ya?”
Interviewer : “Gak, aku sama sih.”
Interviewee : “Takutnya kayak aneh.” (saling tersenyum dan tertawa)
Interviewer : “Gak, saking anehnya
mungkin kalau mau dianggap aneh, aku kalau ujian malah seneng kadang. Iya kita aneh
ya.”
Interviewee : “Sebenernya ada deg-degannya tapi tuh deg-degannya yang
aku enjoy gitu.”
Interviewer : “Iya he'eh he'eh.”
Interviewee : “Kayak mm karena, (saling tertawa dengan interviewer) karena hal baru kayak ada tantangan baru dan mm aku merasa bahwa
apapun yang kita pelajarin there's no
limit to anyone if they wanna learn it gitu. Jadi ada something yang very powerfull
banget, I'm learning and absorbing and
aku suka banget jadi aku tuh bisa kayak baca buku seharian aja aku betah.”
Interviewer : “Ini
pertanyaan dari Irma Irsty “Apa saja aturan yang diterapkan orang tua dari
kecil hingga dewasa sehingga Maudy bisa berprestasi seperti sekarang ini? Apa
ada reward, punishment dan yang menjadi motivasi? Supaya jadi ilmu buat para
orang tua dalam mendidik anak.”
Interviewee : “Mm jadi pertama kayaknya culture nya waktu itu ada by
change juga karena dulu itu kita, waktu aku masih kecil belum ada TV I don't know whatter that was a financial
situation atau kebetulan aja gak ada TV tapi akhirnya entertainment nya itu baca buku itu satu jadi itu menjadi my first from of entertainment terus
yang kedua juga memang orang tua aku apa ya kalau dari obrolan mereka the reward from achievement itu
sebenernya perasaan bangga aja gitu. Kita gak pernah di kasih incentive yang kayak uang atau jajanan
atau apasih tapi kita bisa melihat bangganya orang tua aja sih, aku inget
banget dulu papa aku bisa pulang pergi ke Singapore cuma bawa satu koper cuma
beliin anak-anaknya buku karena dulu mungkin di Jakarta belum terlalu komplit
gitu ya. Jadi papa bener-bener PP,
bener-bener cuma beliin buku buat
anak-anaknya gitu.”
Interviewer : “Jadi harta paling
berharga itu buku, keluarga dan buku.”
Interviewee : “Iya jadi kita bisa seneng banget tuh, kayak papa
pulang buka koper tuh kita yang “Wahh apa nih?” itu tuh buku. Mm terus diluar
itu mama ku tuh please background
karena mama itu dulu dari kecil suka banget ngajak ngobrol tapi ngobrolnya
bukan ngobrol biasa jadi problem solving
tentang hal-hal kecil. Jadi misalnya yang ku pernah cerita tuh juga kayak
misalnya “oh ok mud kita besok mau ada kumpul kumpul keluarga” misalnya aku
umur 9 tahun “kita pesen makanan apa ya?” “ada apa aja?” “oh mungkin bisa ini
ma, bisa ini” “kenapa? Kenapa menurut kamu rendang? Emang di kombinasi sama ini
ok?” jadi obrolan itu gak pernah simpel gitu. Jadi obrolan itu selalu ada
mengapa, kenapa sampai diujung sampai bener-bener kita merasa itu jawaban yang tepat kayak gitu gitu tuh problem solving yang akhirnya setelah
aku pikir pikir mungkin.”
Interviewer : “Itu skill yang di latih
sejak kecil.”
Interviewee : “Iya jadi rasa kepedulian, ingin tahu dan hampir enjoying it gitu karena hampir dibuat like a game gitu, so I think thats the mean one kayak the conversation.”
Interviewer : “Conversation
itu penting, selalu ngobrol makanya ngobrol.”
Interviewee : “Mbak Nana gitu juga gak?”
Interviewer : “Iya aku dilatih untuk ngambil keputusan bahkan sejak
SD itu aku inget banget memutuskan untuk masuk sekolah SMP islam atau SMP
negeri itu keputusan yang aku ambil sendiri.”
Interviewee : “Oh ya?”
Interviewer : “Jadi dari SD lulus aja itu yaudah diputusin bikin list pro kontranya yang mana dan yaudah thats my destination. Makanya sampai
memutuskan nikah muda itu karena sejak kecil aku uda di biasakan untuk berani
mengambil keputusan setelah list pro dan konts
tapi anyway this is about you.”
Interviewee :
“I don’t know.”(saling tertawa)
Interviewer : “Ok
ini aku mau baca dari Lailamamluchah “Kak Maudy Ayunda punya mimpi yang uda di
catet catet gak? Kalau punya apa aja sih yang uda tercapai?” Nah aku mau
nambahin yang belum tercapai karena mimpi itu aku selalu bilang mimpi itu
jangan nanggung.”
Interviewee : “Wahh iya.”
Interviewer : “Mimpi
itu harus setinggi mungkin jangan nanggung kalau mimpi.”
Interviewee : “Iya, bener-bener.”
Interviewer : “Apa mimpinya Maudy Ayunda?
Nih ada yang nanya.”
Interviewee : “Oh mimpinya aku, oh ini yang jangan nanggung itu? Kemaren mimpinya yang nanggung sebenernya
yang kemaren tercapai. ( interviewer
tepuk tangan) Itu bener-bener temen-temen harus tau, aku bener-bener merasa gak
akan keterima maksudnya aku honestly feel
I was biting the other jadi karena itu ya aku honestly merasa itu perjalanan yang cukup jauh lah gitu ya. Aku
pengen nantinya masuk ke dunia pendidikan memang gitu ya and I have just some ideas, ada yang pengen aku bikin kayak some type edutainment start up thing.
Jadi itu impiannya atau misalnya aku sebenernya juga punya impian pengen bikin
sekolah juga kayak mbak Nana jadi itu sih impian besar 2 itu terus apalagi ya? (berfikir
dan mengingat) Kayaknya itu deh, itu yang terbesar untuk sekarang apa yang
ingin aku lakukan setelah itu.”
Interviewer : “Jadi
punya sekolah dan bikin start up
edutainment, I think is very a cheap able sih sangat.”
Interviewee : “Loh jadi harus yang lebih tinggi lagi dong?”
Interviewer : “Gak apa-apa,
gak apa-apa. (saling tertawa) Setelah itu ada yang lebih tinggi lagi gak
apa-apa.”
Interviewee : “Iya segitu dulu deh.”( tertawa asik dengan interviewer)
C. Dimensi
Attending Behavior
1.
Visual
Eye Contact
Ketika pertanyaan pertama hampir selesai, interviewer baru memberikan kontak mata
terhadap interviewee dimulai dari
detik kesembilan. Saat interviewee
memberikan jawaban, interviewer terus
memberikan kontak mata terhadap interviewee.
Walaupun interviewee tidak membalas
kontak mata tersebut seperti yang dapat dilihat pada detik ke-37. Setelah
memutus kontak mata, interviewer kembali
memberikan kontak mata terhadap interviewee.
Pada menit ke 1:04, meskipun interviewee
merasa jawaban yang diberikan terdengar aneh, interviewer tetap tidak memutus kontak mata terhadap interviewee. Selama interview, interviewee
dengan cepat kembali memberikan kontak mata setelah mengalihkan kontak mata
seperti pada menit ke 3:08 dan 5:14.
Dari awal video wawancara, interviewer tidak melakukan kontak mata terhadap interviewee sembari memberikan
pertanyaan. Mulai dari detik ketiga, sesekali interviewer memandang ke kamera
lalu memandang ke atas ketika memberikan perandaian. Pada detik ke-55,
penghindaran kontak mata kembali terjadi ketika interviewer mengajukan pertanyaan dan berpikir untuk menyelesaikan
kalimat pertanyaannya. Pada menit ke 1:17, penghindaran kontak mata terjadi
lagi ketika interviewer memberikan
opininya atas jawaban interviewee.
Ketika interviewer tertawa juga
terjadi pengalihan kontak mata seperti yang terjadi pada menit ke 1:22 dan
1:31. Pada menit ke 1:54, terlihat interviewer
juga menghindari kontak mata ketika harus membacakan pertanyaan dari tablet. Interviewer menghadap ke kamera lagi
untuk memberikan kata kunci dari jawaban interviewer
pada menit ke 3:06 dan 4:31. Pada menit ke 5:17 dan 5:44, interviewer sempat mengalihkan kontak mata pada tablet selagi interviewee memberikan jawaban dan tidak
memberikan kontak mata. Interviewee
memberikan pertanyaan parafrase dengan mengalihkan pandangan ke kamera pada
menit ke 6:16.
2.
Vocal
Qualities
Pada pertanyaan pertama dari awal video, intonasi interviewer sempat meninggi ketika interviewee menimpali pertanyaan pada
detik keenam lalu kembali normal di akhir pertanyaan. Pertanyaan kedua pada
detik ke-52, intonasi interviewer
normal. Terdengar ada penekanan pada kata 'bagian'. Pertanyaan ketiga pada
menit ke 1:53 dibacakan dari tablet dengan intonasi normal dan penekanan pada
kata “reward”. Pertanyaan keempat pada menit ke 4:57 juga
dibacakan dari tablet dengan intonasi normal. Pada pertanyaan terakhir di menit
6:16 intonasi agak rendah dengan penekanan pada kata “sekolah”.
Pada pertanyaan pertama, kecepatan bicara interviewer normal. Sempat ada jeda
sejenak pada detik keempat lalu kembali normal. Pada pertanyaan kedua,
interviewer menyela jawaban interviewee
dan memberikan pertanyaan dengan cepat. Ada jeda sejenak pada detik ke-54 lalu
kembali normal. Pertanyaan ketiga dibacakan dari tablet dengan cepat lalu
semakin ke akhir semakin normal. Pertanyaan keempat dibacakan dari tablet
dengan cepat. Pertanyaan terakhir ditanyakan dengan kecepatan yang lebih
lambat.
Selama wawancara berlangsung, tidak terdengar ada aksen
daerah khusus yang digunakan oleh interviewer.
Ketika interviewee
berkata, "Ngapain jadi artis? Udah sekolah tinggi-tinggi." pada detik
ke-23, interviewer tetap menimpali
dengan nada, kecepatan, dan aksen yang normal. Namun, suara interviewer
meninggi pada kata 'tinggi' sambil tertawa di detik ke-27. Setelah interviewee
berkata, "Ini aneh dan ini bakal terdengar aneh..." mulai dari menit
ke 1:04, interviewer menimpali dengan
nada, kecepatan, dan aksen yang normal. Pada menit ke 1:21, interviewer menanggapi interviewee dengan nada yang lebih
tinggi. Sesekali interviewer
menanggapi dengan nada yang lebih rendah seperti pada menit ke 1:30 dan 1:34.
Pada menit ke 3:05, setelah interviewee
menyela interviewer dengan nada, kecepatan, dan aksen yang normal lalu ada
penekanan pada kata 'keluarga' di menit ke 3:07. Pada menit ke 4:06, interviewer kembali menyela interviewee dengan nada yang lebih
tinggi dan kecepatan suara yang lebih cepat. Setelah kata “conversations” di menit ke 4:19, interviewer menimpali dengan nada yang lebih rendah dan kecepatan
yang lebih lambat.
3.
Verbal
Tracking and Selective Attention
Dari awal sampai akhir video wawancara, interviewee menjawab setiap pertanyaan
dari interviewer dengan santai dan
tidak terlihat tegang. Beberapa kali tersenyum kepada interviewer dan bahkan tertawa bersama. Interviewee menggambarkan dirinya yang walaupun sudah berpendidikan
tinggi tetap bisa menjadi artis, dia menjelaskan bahwa orang-orang di dunia
musik dan perfilman adalah orang-orang yang sangat intelektual dan menceritakan
tentang bagaimana dia tidak setuju dengan isu-isu yang beredar tentang artis,
kalau seorang artis itu suatu pekerjaan yang tidak intelektual (pada menit ke
0:36).
Lalu interviewer
bertanya tentang apakah pendidikan menjadi bagian yang sangat penting bagi si interviewee (pada menit ke 0:52). Si interviewee pun menyetujuinya dan
menjelaskan kalau dia sangat mencintai belajar dan sangat nyaman melakukannya,
sampai membaca buku seharian pun bisa dilakukannya.
Lalu dari sisi interviewer
menceritakan perasaannya yang senang ketika ada ujian, dan dari sisi interviewee pun menyetujuinya dan
menceritakan perasaannya yang walaupun hatinya berdebar-debar ketika ada ujian
tapi dia tetap nyaman, kemudian mereka pun tertawa bersama (pada menit ke 1:15,
1:22 dan 1:30).
Dan selama berjalannya wawancara, terdapat Q&A dari
tablet (dimulai dari menit ke 1:53) kemudian interviewer pun membacakan pertanyaannya lalu interviewee pun menjawab setiap pertanyaan itu dan menceritakan
pengalamannya saat masih kecil bahwa saat itu belum ada TV, jadi hiburannya
saat itu adalah membaca buku. Dan keluarganya pun sangat mendukungnya dengan
meceritakan bahwa ayahnya rela pulang pergi ke Singapura hanya untuk
membelikannya buku, hingga saat mengobrol dengan ibunya pun bukan membahas
obrolan biasa melainkan obrolan yang melatih skill supaya terbiasa melakukan problem solving.
Jadi inti dari interview
itu membahas topik tentang pendidikan dan karir, serta isu-isu yang beredar
tentang artis yang terkadang membuat orang punya persepsi bahwa menjadi artis
itu pasti enaknya saja, hanya mengandalkan fisik dan sebagainya. Padahal
walaupun sudah berpendidikan tinggi, menjalani karir sebagai artis pun tetap
bisa, dan orang-orang di dunia musik dan perfilman adalah orang-orang yang
sangat intelektual, bukan sembarang orang yang hanya mengandalkan fisiknya
saja. Interview itu juga bertujuan
untuk memberi tahu bahwa tidak ada batasan bagi siapapun jika mereka ingin mempelajarinya
dan bermimpilah setinggi mungkin untuk meraihnya.
4.
Attentive
Body Language
Dari awal video wawancara, interviewee sangat menyimak pembicaraan dari interviewer dan menghadapkan badannya ke arah interviewer sambil tersenyum menatap ke arah interviewer kemudian menjawab “iya, iya, iya” kepada interviewer sambil menganggukkan
kepalanya. Lalu di menit 0:11 interviewee
menghadapkan badannya ke arah kamera, menjelaskan sambil sesekali menatap ke
arah kiri atas kemudian menatap ke arah interviewer,
dan mulai menggerakkan tangannya pada menit ke 0:36 sampai 0:50. Lalu menatap
ke arah interviewer lagi saat interviewer memberikan pertanyaan (pada
menit ke 0:53), interviewee pun
menjawab dengan mengalihkan pandangannya dari inteviewer ke atas kemudian ke arah kamera, lalu menatap ke arah interviewer lagi pada menit ke 1:11.
Kemudian mereka pun tertawa bersama (pada menit ke 1:15, 1:22 dan 1:30). Interviewee mengepalkan tangannya dengan
antusias dan berkata “iya!” pada menit ke 1:21. Lalu menggerakkan tangannya ke
arah dada menggambarkan perasaan berdebar-debar pada menit ke 1:26 dan kembali
menjelaskan sambil menggerakkan tangannya sampai menit ke 1:52. Kemudian interviewer pun membacakan pertanyaan
dari tabletnya, interviewee pun
tampak berpikir dan meletakkan tangannya di dagu sebelah kiri pada menit ke
2:02. Lalu di menit 2:08 interviewee
menggerakkan tangannya ke arah meja sambil menjelaskan. Selama wawancara, interviewee selalu menggerak-gerakkan
tangannya sambil menjelaskan dan sesekali meletakkan tangan kirinya di dagu
sebelah kirinya.
Pada menit ke 4:23, interviewee
mengajukan pertanyaan kepada interviewer
dengan menatap dan menghadapkan badannya ke arah interviewer sambil tersenyum mendengarkan jawaban dari interviewer dan sesekali menganggukkan kepalanya.
Kemudian tertawa bersama pada menit ke 4:51. Lalu pada menit ke 4:53 interviewer pun kembali membacakan
pertanyaan dari tabletnya, interviewee
menatap ke arah kanan meja sambil berpikir, setelah interviewer selesai membacakan pertanyaan dan berkata “mimpi tuh
harus setinggi mungkin”, interviewee
pun tersenyum dan mengangguk menyetujuinya, kemudian kembali menjelaskan sambil
menggerakkan tangannya pada menit ke 5:15 lalu sesekali menatap ke arah kamera
dan ke arah interviewer sambil
menjelaskan impian terbesarnya kemudian tertawa ke arah interviewer pada menit ke 6:26 sampai akhirnya interviewee berkata “segitu dulu deh” di akhir video wawancara.
Posting Komentar