Beberapa
tes yang dikembangkan di indonesia antara lain :
1.
Tes Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
Wechsler Adult
Intelligence Scale (WAIS) dikembangkan oleh David Wechsler. Akibat rasa
ketidakpuasan dengan batasan dari teori Stanford-Binet dalam penggunaannya,
khususnya dalam pengukuran kecerdasan untuk orang dewasa sehingga
dikembangkanlah tes ini. David Wechsler kemudian meluncurkan tes kecerdasan
baru yang dikenal sebagai Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) pada 1955.
Tes ini digunakan oleh orang dewasa usia 16-75 tahun atau lebih. Pelaksanaan
tes ini dilakukan secara individu (Maarif et al., 2017). WAIS menjadi alat tes
yang paling populer karena paling banyak digunakan di dunia saat ini. Di
Indonesia sendiri sampai saat ini. masih menggunakan adaptasi WAIS tahun 1955
yang memerlukan revisi dari berbagai faktor.
2.
Tes WISC
Salah satu alat
ukur inteligensi yang banyak digunakan di Indonesia adalah WISC. Alat ukur ini
diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Weschler dan telah mengalami beberapa
revisi. Untuk yang diadaptasi di Indonesia merupakan adaptasi sekala asli yang
telah direvisi (penulis menduga ini merupakan bentuk revisi ke III yang
dilakukan pada tahun 1980an). Seperti namanya yang terdapat kata children, alat
tes ini diperuntukkan bagi anak berusia 5-15 tahun (Untuk usia diatasnya ada
alat tes WAIS). Skala WISC terbagi atas 2 kelompok tes yang disebut kelompok
Verbal dan Kelompok Performance.
3.
Tes Binet
Tes Binet
adalah Alat tes Intelegensi pertama yang dimulai pada tahun 1900- an. Alat tes
ini memerlukan sebuah kotak yang berisi mainan khusus dan dua buah buku yang
berisi kartu-kartu dan sebuah catatan untuk mencatat reaksi anak, alat tes ini
digunakan untuk anak-anak sampai dewasa dengan perbedaan pada tingkat kesulitan
dan kesukaran pertanyaan yang diberikan,Alat tes ini bisa gunakan untuk
anak-anak yang ingin masuk SD, SMP, SMA, maupun dalam tes psikotes tes binet
juga dapat diberikan.
4.
TES CFIT (Culture Fair Intelligence Test)
CFIT merupakan
salah satu tes inteligensi yang sering digunakan oleh psikolog dan lembaga
psikologi di Indonesia. Pertama kali Tes inteligensi CFIT ini dikembangkan oleh
Raymond B. Cattell pada tahun 1940. Dalam proses administrasinya, Tes CFIT
relatif tidak memakan waktu yaitu hanya sekitar 30 menit sehingga tes CFIT
populer digunakan di kalangan praktisi (Suwandi, 2015).
5.
APM (Advanced Progressive Matrices)
APM adalah alat
tes yang dikembangkan oleh Raven, sebenarnya alat tes pertama Raven adalah RPM
namun kalah popular dengan CPM, SPM, dan APM karena bersifat umum sehingga
tidak saya masukan dalam list alat tes ini. APM ini digunakan untuk orang-orang
yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata.
6.
CPM (Coloured Progressive Matrices)
CPM adalah alat
tes yang dikembangkan oleh Raven, sebenarnya alat tes pertama Raven adalah RPM
namun kalah popular dengan CPM, SPM, dan APM karena bersifat umum sehingga
tidak saya masukan dalam list alat tes ini. CPM ini digunakan untuk orang-orang
yang memiliki usia 5-11 tahun dan orang dewasa namun memiliki tingkat
pendidikan yang rendah.
7.
Tes SPM (Standard Progressive Matrices)
SPM adalah tes
inteligensi yang dirancang oleh J.C Raven pada tahun 1936 serta diterbitkan
pertama kali di tahun 1938. SPM yang dijumpai di Indonesia yaitu hasil revisi
pada tahun 1960. Tes SPM mengukur kecerdasan orang dewasa. Tes ini
mengungkapkan faktor general (G faktor) atau kemampuan umum seseorang. Tes SPM
digunakan secara individual atau klasikal dan waktu penyajian yang dibutuhkan
25 menit (Kumolohadi & Suseno, 2012).
8.
Tes IST (Intelligenz Structure Test)
IST merupakan
alat tes inteligensi yang telah diadaptasi di Indonesia. Tes ini dikembangkan
oleh Rudolf Amthaeur di Frankfrurt Main Jerman pada tahun 1953. Intelligenz
Struktur Test (IST) terdiri dari sembilan subtes antara lain: Satzerganzung
(SE) yaitu melengkapi kalimat, Wortauswahl (WA) yaitu melengkapi kata-kata,
Analogien (AN) yaitu persamaan kata, Gemeinsamkeiten (GE) yaitu sifat yang
dimiliki bersama, Rechhenaufgaben (RA) yaitu kemampuan berhitung, Zahlenreihen
(SR) yaitu deret angka, Figurenauswahl (FA) yaitu memilih bentuk,
Wurfelaufgaben (WU) yaitu latihan balok, dan Merkaufgaben (ME) yaitu latihan simbol.
IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi Fakultas Psikologi
Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada IST-70. Tes ini
pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung, Jawa Barat.
9.
WPPSI (Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence)
WPPSI
dikembangkan oleh David Wechsler. WPPSI adalah salah satu alat tes yang popular
di Indonesia digunakan untuk anak yang ingin masuk SD untuk mengetahui apakah
anak tersebut sudah bisa untuk sekolah SD atau belum (tingkat kecerdasannya).
Tes ini akan dibagi-bagi dalam beberapa subtes untuk mengetes kemampuan
intelegensi anak dan terdapat dua bentuk yaitu verbal dan performance. WPPSI
juga digunakan untuk menentukan sekolah bagi anak dengan melihat apakah anak
memiliki kerusakan pada otak.
10.
TIDI (Tes Intelegensi Dewasa Indonesia)
TIDI
dikembangkan berdasarkan pada WAIS-R yang disesuaikan dengan kondisi sosial
budaya Indonesia. Penelitian dilakukan di Pulau Jawa tahun 1992-1997. Jumlah
subyek 3366 orang. Rentang usia 16-34 tahun.
Kelemahan alat tes Binet adalah
1)
Skala stanford-Binet dikenakan secara individual
dan soal-soalnya diberikan secara lisan, dan akan menemui kendala bila
dikenakan pada anak dengan gangguan atensi, karena ada beberapa instruksi yang
tidak boleh diulang.
2)
Terlalu menekankan pada tes verbal dan memori
3)
Aspek yang diukur dalam tes yang berbasis teori
Binet itu terlalu umum
4)
Tidak dapat mengukur kemampuan kreatif
5)
Biaya produksi dan peralatan lebih mahal serta
kurang praktis
6)
Hanya ada satu skor IQ untuk menunjukkan
kompleksitas fungsi kognitif
7)
Bahwa kecerdasan ditentukan secara lahir dan
tidak dapat diubah, hasil penelitian Buzan,machado; Bernard Devlin menyatakan
selain gen yang bertanggung jawab, kecerdasan juga ditentukan oleh perawatan
otak pra kelahiran, lingkungan, serta Pendidikan.
Posting Komentar