LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL (Indera Penciuman)

 LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL


1.        Percobaan                         : Indera Penciuman

Nama Percobaan              : Pembauan

Nama Subjek Percobaan : Trio Panji Yanuarsyah

Tempat Percobaan           : Rumah

a.      Tujuan Percobaan     : Untuk membuktikan bahwa zat yang dibaui adalah

zat yang berupa gas, serta membedakan beberapa    wewenangi mulai dari bau yang tidak enak sampai yang enak.

b.      Dasar Teori                 : Menurut Arisworo (2008) Hidung merupakan

indera pembau yang peka terhadap rangsang berbentuk gas dan uap. Di dalam rongga hidung terdapat sel-sel reseptor yang dilengkapi dengan rambut-rambut halus berselaput lendir. Pada waktu kita mencium aroma makanan, zat berbau yang menguap dari makanan tersebut terhirup bersama udara pernapasan. Kemudian, larut bersama selaput lendir di dalam rongga hidung. Hal ini merangsang ujung sel saraf pembau di rongga hidung. Dari ujung sel saraf pembau ini implus akan diteruskan ke otak. Setelah dari otak kita bisa dapat mengatakan bahwa masakan tersebut harum. Fungsi indera pembau akan hilang jika terjadi penyumbatan rongga hidung (misalnya oleh polip atau tumor) dan adanya infleksi pada reseptor-reseptor pembau oleh virus. Hilangnya fungsi indera pembau disebut anosmia.

Menurut Andriyani (2015) Indera penciuman adalah indera yang digunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu aroma yang dihasilkan. Reseptor pencium dan pengecap keduanya adalah kemorseptor yang dirangsang oleh molekul-molekul dalam larutan dalam cairan hidung dan mulut. Akan tetapi, kedua indera ini secara anatomis sangat berbeda reseptor penciuman adalah reseptor jauh (teleseptor) lintasan penciuman tidak mempunyai sambungan dalam talamus dan tidak terdapat daerah proyeksi dalam neokorteks untuk penciuman.

Menurut Abdullah (2007) Ujung-ujung saraf pembau terletak dalam rongga hidung bagian atas. Manusia memiliki 10-20 juta sel pembau (sel olfaktori). Pada sel-sel pembau terdapat silia atau rambut-rambut halus. Sel-sel pembau ini peka terhadap zat-zat kimia sehingga mampu menerima rangsangan dari gas atau zat-zat kimia sehingga mampu menerima rangsangan dari gas atau zat-zat kimia yang menguap. Sel pembau terhubung dengan saraf pembau. Apabila rangsangan zat kimia yang menguap atau gas memasuki rongga hidung dan bercampur dengan lendir, maka rangsangan tersebut akan diterima sel pembau. Implus ini diteruskan ke pusat penciuman di otak dan akhirnya diartikan sebagai bau, sehingga kita dapat mencium bau.

c.       Alat yang Digunakan : Beberapa macam wewangian (siapkan 5 jenis,

boleh bumbu dapur ataupun parfum) dan slayer penutup mata.

d.      Jalannya Percobaan   : 1.1. Sediakan 5 macam wewangian  dengan aroma

yang berbeda yaitu:

1.1.1.      Wangi 1  : Parfum aroma cokelat.

1.1.2.      Wangi 2  : Petai.

1.1.3.      Wangi 3  : Jengkol.

1.1.4.      Wangi 4  : Bawang putih.

1.1.5.      Wangi 5  : Terasi.

1.2. Letakkan 5 macam wewangian tersebut ke

piring kecil. Tutuplah mata praktikan menggunakan player penutup mata. Kemudian praktikkan menghirup aroma wewangian tersebut satu-persatu lalu praktikan menebak bau wewangi apa yang praktikan hirup dan mencatat hasilnya.

e.       Hasil Percobaan          : 1.1. Hasil percobaan menebak 5 wewangian

 dengan aroma yang berbeda yaitu:

1.1.1.      Wangi 1 : Parfum aroma cokelat.

1.1.2.      Wangi 2 : Jengkol.

1.1.3.      Wangi 3 : Petai.

1.1.4.      Wangi 4 : Bawang putih.

1.1.5.      Wangi 5 : Terasi.

1.2. Praktikan hanya bisa menebak 3 macam aroma yaitu: parfum aroma cokelat, bawang putih, dan terasi. Praktikan tidak dapat membedakan bau jengkol dan bau petai.

f.       Kesimpulan                 : Di dalam rongga hidung terdapat sel-sel reseptor

yang dilengkapi dengan rambut-rambut halus berselaput lendir. Pada waktu kita mencium aroma makanan, zat berbau yang menguap dari makanan tersebut terhirup bersama udara pernapasan. Kemudian, larut bersama selaput lendir di dalam rongga hidung. Hal ini merangsang ujung sel saraf pembau di rongga hidung. Dari ujung sel saraf pembau ini implus akan diteruskan ke otak. Setelah dari otak kita bisa dapat mengatakan bahwa masakan tersebut harum. Oleh karena itu, saat kita menghirup aroma yang pernah kita hirup, otak kita merekam apa yang kita pernah rasakan. Dengan demikian, kita bisa menebak aroma wewangian tanpa melihat apa yang sedang kita hirup aromanya.

g.      Daftar Pustaka           : -

Andriyani, R., Triana, A., & Juliarti, W. (2015). Buku Ajar Biologi Reproduksi dan Perkembangan. Yogyakarta: Deepublish.

Abdullah, M., Saktiyono, & Lutfi. (2007). IPA Terpadu SMP dan MTs Kelas IX Semester 1 Jilid 3A. Jakarta: Erlangga.

 

 

Note :

1.      Biasanya dalam hal kemampuan mengingat bau, ♀ lebih baik.

2.      Proporsinya, dari 5 macam wewangian → ♀ = 5, dan ♂ = 3.

3.      Hal ini disebabkan karena pada ♀, ruang dalam menerima gas (Concha nasal superior) lebih luas.

4.      Semakin tajam wewanginya → semakin mudah dikenal.

5.      Semakin lembut wewanginya → sulit dikenal.

6.      Syaraf kranial → olfactory.

7.      Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki banyak reseptor pembau, namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi ( component principle).

8.      Organ pembau hanya memiliki 7  reseptor, namun dapat membau lebih dari 600 aroma. Manusia mempunyai daya ingat yang kuat dalam hal penciuman yang berkaitan dengan aroma tertentu.

9.      Sistem olfaction dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptornya disebut pula Chemoreseptor.

10.  Sistem olfaction terdapat di hidung bagian atas (Concha nasal superior) → yang peka dalam penciuman dan lebih dekat ke syaraf olfaktorius.

11.  Penciuman pada manusia, secara umum unsur yang mempengaruhi adalah:

a.       Fisik → hidung mancung lebih sensitif terhadap bau.

b.      Fisiologi → ♀ yang PMS lebih sensitif.

12.  Kemampuan membau makhluk hidup tergantung pada:

a.       Susunan rongga hidung → hidung mancung lebih peka.

b.      Variasi fisiologi → ♀ PMS dan hamil muda memiliki penciuman yang lebih peka.

c.       Spesies → anjing (karena kemampuannya survival tergantung pada pembauan).

d.      Konsentrasi bau → bau busuk akan lebih tercium.





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama